sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, March 2, 2009

pressure of Warm-Globe

Jangan Lupa Matikan Lampu 28 Maret, Cukup Sejam Saja!
Sabtu, 28 Februari 2009 | 04:07 WIB

JAKARTA, SABTU - Kampanye global untuk menekan pemanasan global akan dilakukan dalam bentuk gerakan mematikan lampu sejagat. Tahun ini, kampanye yang diberi nama Earth Hour 2009 ini akan dilakukan serentak Sabtu 28 Maret.

Seluruh penduduk dunia diimbau untuk mematikan lampu di rumah. Tidak perlu sehari tapi cukup satu jam saja dari pukul 20.30 hingga 21.30. Pastikan semua alat elektronik yang tidak terpakai dalam kondisi power off bukan stand by.

"Sasaran kami mencapai satu milyar orang, lebih dari 1000 kota, semua bersatu untuk bersama-sama dalam upaya global untuk memperlihatkan bahwa mungkinlah untuk mengambil tindakan pada pemanasan global," demikian pesan yang ditulis dalam situs resmi Earth Hour yang dimotori WWF (Eorld Wildlife Fund). Jakarta termasuk salah satu kota yang telah memastikan akan berpartisipasi. Sejauh ini sudah 680 kota di 77 negara yang telah mendaftar dan akan terus bertambah.

WWF Indonesia memperkirakan, jika seluruh penduduk Jakarta mematikan lampu satu jam, cukup untuk mengistirahatkan kebutuhan listrik sebesar 300 MW. Ini juga akan mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta dan mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 284 ton.

Inisiatif ini telah dimulai pada tahun 2007 di Sydney, Australia dan berhasil melibatkan 2,2 juta rumah hunian dan bisnis termasuk Gedung Opera Sydney. Penjuru global, seperti Golden Gate Bridge di San Francisco, Colosseum di Roma dan papan reklame Coca Cola di Times Square, semuanya membisu dalam kegelapan, sebagai lambang-lambang harapan untuk suatu maksud mulia yang setiap jam semakin mendesak.

Apakah Anda akan melewatkan kesempatan ini saat semua orang bahu-membahu memberikan perhatian sejank kepada Bumi. Lagipula, menyelamatkan Bumi juga bisa dilakukan dengan langkah kecil seperti ini. Kalau kita bisa kenapa tidak?

WAH _____________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(SUMBER; KOMPAS)

archeologhy

Fosil Burung Raksasa Bergigi Diketemukan di Peru
Seorang paleontolog membersihkan fosil tengkorak burung raksasa yang memiliki gigi di sepanjang paruhnya di National History Museum Lima, Peru.
Minggu, 1 Maret 2009 | 10:17 WIB

LIMA, MINGGU — Sebuah fosil tengkorak burung laut raksasa berusia 10 juta tahun diketemukan di pantai selatan Peru. Paruhnya tidak hanya masih terlihat utuh, tetapi dilengkapi gigi.

Menurut Kepala Paleontologi Vertebrata Museum Sejarah Nasional Peru Rodolfo Salas, fosil ini berasal dari keluarga Pelagornithid. Keluarga burung ini dipercaya telah punah 3 juta tahun yang lalu.

Rodolfo menambahkan bahwa burung tersebut diperkirakan memiliki rentangan sayap mencapai 6 meter. Makanannya adalah ikan-ikan kecil dan cumi-cumi. Gigi di sepanjang paruhnya mungkin digunakan untuk mencengkeram tubuh mangsanya yang licin.

Sementara itu, Dan Kepska, paleontolog dari North Carolina State University, AS, mengatakan bahwa fosil ini juga ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, dan Antartika. Beberapa orang meyakini bahwa fosil ini berhubungan dengan pelikan, bebek, atau burung laut raksasa lainnya.

Ken Campbell, kurator Museum Sejarah Los Angeles, mengatakan, penemuan fosil di Peru ini niscaya menjadi penemuan penting untuk mengetahui misteri burung raksasa ini. Temuan tersebut juga membantu mempelajari fosil-fosil Pelagornithid yang ditemukan di tempat-tempat lain.

Dengan ditemukannya fosil kepala burung di pantai selatan Lima ini, membuat daerah ini semakin dikenal sebagai tempat penemuan fosil binatang laut. Fosil lain yang telah ditemukan adalah fosil paus, lumba-lumba, dan penyu yang umurnya mencapai 14 juta tahun yang lalu.

C4-09 Sumber : AP via KOMPAS

tentang~PANCASILA

APAKAH PANCASILA MASIH RELEVAN?
Written by Agus Wahyudi, Universitas Gadjah Mada
Monday, 28 July 2008 05:23
Setiap tahun di saat datang peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni, banyak kalangan selalu bertanya “apakah Pancasila masih relevan?” Ini adalah pertanyaan yang tidak sederhana. Kalau setiap orang diminta membuat uraian dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing, penjelasan yang muncul mungkin akan sebanyak jumlah kepala orang. Tetapi saya akan menduga bentuk jawabannya hanya ada dua; Ya dan Tidak! Baiklah saya mulai dengan kemungkinan penjelasan kenapa Tidak. Kenapa Pancasila dianggap tidak relevan? Jangan salah! Ini tidak ada hubungannya dengan sikap anti-Pancasila. Benar, mungkin saja, sebagian orang Indonesia ada yang terang-terangan menolak Pancasila, tetapi orang-orang ini tidak mewakili pandangan mayoritas. Ada indikasi untuk percaya bahwa banyak orang Indonesia tidak memiliki pandangan negatif terhadap Pancasila. Sebagian sebabnya tentu saja karena fakta bahwa Pancasila sudah menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Lebih dari itu, Pancasila juga membuat Indonesia ada, dan besar kemungkinan dapat membantu bangsa yang majemuk ini tetap bertahan dan berkembang sampai waktu yang lama. Pengetahuan sejarah dapat menyadarkan generasi sekarang tentang besarnya jasa para pendiri negara, terutama Bung Karno, yang telah mewariskan gagasan tentang Pancasila sebagai dasar negara. Tetapi apa makna yang lebih dalam dari sejarah Pancasila? Masih menjadi pertanyaan menarik, kenapa pidato Pancasila Sukarno 1 Juni 1945 dan bukan alternatif lain yang waktu itu juga ditawarkan dalam sidang BPUPK yang akhirnya diterima dan bahkan mendapat sambutan tepuk tangan sangat meriah dari para anggota sidang? Pada hemat saya itu terjadi bukan terutama karena lima sila dari Pancasila, yang memang menarik, atau karena ketrampilan berpidato Bung Karno, yang diakui sangat memukau. Sebab, jangan lupa, Bung Karno tidak hanya berbicara Pancasila dalam pengertian sebagai lima sila. Dia juga menawarkan kepada para anggota sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945 bahwa kelima sila bisa diperas menjadi tiga sila, yang disebutnya sebagai trisila, dan bahkan, menurut Bung Karno, jika masih dipandang terlalu banyak, trisila itu juga bisa diperas menjadi satu saja, yaitu eka sila, berupa Gotong Royong. Karena itu, penjelasan paling masuk akal dari pertanyaan mengapa usulan Pancasila Bung Karno yang akhirnya diterima adalah karena waktu itu Bung Karno mempraktekkan dengan sempurna apa yang dalam istilah filsafat politik kontemporer disebut sebagai nalar-publik (public reason). Praktek nalar publik selalu mengandung sedikitnya tiga pengertian (bandingkan Rawls, 2002). Pertama, ada kriteria kesetaraan dan kebebasan yang sama, artinya pelakunya menyadari bahwa dirinya adalah anggota dari warga negara yang bebas (free) dan setara (equal), dan menganggap orang lain juga bebas dan setara. Kedua, ada kriteria resiprositas, artinya ketika si pelaku mengajukan usulan kepada pihak lain dalam rangka menentukan persyaratan untuk kerjasama (yang dalam konteks sejarah BPUPK adalah kerjasama dalam membentuk sebuah negara merdeka yang baru) yang pertama-tama dipertimbangkan adalah bahwa usulannya akan masuk akal di mata orang lain, yang juga merupakan warga negara yang bebas dan setara, sehingga mereka menerima kesepakatan bukan karena dominasi atau manipulasi, atau karena tekanan paksa akibat posisi sosial dan politik yang lebih rendah (inferior). Dan ketiga, ada kriteria kebaikan bersama, artinya pokok masalah (subject) yang dibicarakan dalam usulan kerjasama itu adalah tentang kebaikan bersama (public good) atau keadilan politik fundamental, yang mempermasalahkan dua hal, yaitu inti penting konstitusi (constitutional essentials) dan masalah keadilan dasar. Sejarah lahirnya Pancasila adalah contoh sempurna dari penerapan nalar publik itu. Sebab berbeda dengan proposal lain yang juga diusulkan dalam sidang BPUPK pada 1945, Pancasila Soekarno merupakan sintesis dari berbagai pengaruh pemikiran yang disajikan sedemikian rupa, tetapi bukannya dengan menafikan, usulannya dirumuskan dalam pengertian yang menjunjung tinggi pengertian kebebasan dan kesetaraan, resiprositas, dan kebaikan bersama. Inilah rahasianya mengapa Pancasila Sukarno yang akhirnya diterima dengan suara bulat, meskipun dalam konstitusi rumusan itu kemudian mengalami perubahan urutan dan modifikasi. Kini, kembali pada pertanyaan awal kita, mengapa ada anggapan bahwa Pancasila tidak relevan, jawabannya bisa dijelaskan dengan kalimat negatif, yaitu karena makna Pancasila yang paling mendasar dan sangat penting sebagai nalar publik sudah semakin sulit dikenali. Orang melihat banyak ajaran yang baik dan luhur dari Pancasila tetapi semua itu tidak ada hubungannya dengan realitas hidup mereka sehari-hari. Di masa pemerintah Orde Baru, yang berkuasa hampir selama 32 tahun, telah dilakukan usaha untuk menempa identitas ideologis yang secara historis otentik sekaligus berbeda dengan identitas ideologis regim Sukarno, yaitu dengan cara mengklaim kembali dan membentuk ulang Pancasila. Namun, negara Pancasila yang dikembangkan oleh regim Orde Baru lebih bertitik tolak dari ajaran Integralisme atau Organisisme yang sesungguhnya berasal dari usulan Supomo pada sidang BPUPK tahun 1945, dan bukan dikembangkan berdasarkan Pancasila sesuai dengan makna awalnya, yaitu sebagai nalar publik. Sementara nalar publik pada dasarnya sejalan dengan demokrasi konstitusional dengan kriteria berupa persamaan dan kesetaraan, resiprositas, dan orientasi pada kebaikan bersama, ajaran integralism memiliki konsepsi tentang negara yang hampir bertolak belakang dengan konsepsi yang dikenal dalam pengertian demokrasi konstitusional. Kita tahu, dalam perdebatan pembentukan negara, baik BPUPK maupun PPKI, telah terjadi pertarungan antara berbagai pengaruh pemikiran ini. Integralisme mengajarkan konsepsi tentang negara yang menolak pemisahan negara dan masyarakat sipil, dan juga menolak doktrin politik modern seperti pemisahan kekuasaan (separation of power) dan pengawasan dan keseimbangan (check and balances) dalam kekuasaan. Implikasi dari Pancasila yang dipahami dalam pengertian integralisme sangat jelas. Doktrin Orde Baru mengatakan bahwa demokrasi Pancasila tidak mengenal oposisi, sebab sebagaimana keyakinan integralisme, pemerintah pada dasarnya akan selalu baik hati, dan tidak pernah menyengsarakan rakyatnya. Tidak boleh ada pandangan yang membedakan antara pemerintah dan rakyat, dan karena itu sistem politik harus dikembangkan sedemikian rupa untuk memastikan masyarakat sipil di bawah kontrol negara. Pancasila sebagai nalar publik lebih dekat dengan demokrasi konstitusional, ketimbang dengan ajaran organisisme atau integralisme. Pandangan dasar tentang negara dalam demokrasi konstitusional adalah bahwa kekuasaan di manapun bisa bersalah guna. Para pendukung demokrasi konstitusional meyakini bahwa kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut akan korup secara absolut pula. Maka tentu saja sangat berbahaya jika satu orang diberi kekuasaan sekaligus untuk membuat hukum, melaksanakan hukum, dan mengadili pelaksanaan hukum. Orang semacam ini memiliki kekuasaan absolut, dan dia nyaris menjalankan fungsi seperti yang dijalankan Tuhan atau Dewa. Padahal manusia bukan Tuhan atau Dewa, dan juga bukan malaikat yang selalu baik, patuh pada perintah Tuhan dan tidak pernah lupa. Karena itu demokrasi konstitusional menyarankan bahwa dalam merancang sebuah pemerintahan yang diatur oleh manusia terhadap manusia, kesulitan terbesar akan terletak dalam dua hal, pertama, bagaimana memberikan kemungkinan pemerintah mengontrol yang diperintah, dan kedua, bagaimana menentukan kewajiban pemerintah untuk mengontrol dirinya sendiri. Ketika praktek bernegara, dalam negara yang mengakui berdasarkan Pancasila, tidak banyak memperhatikan persyaratan untuk membatasi kekuasaan pemerintah agar bisa mengontrol dirinya sendiri, maka hal ini pasti menimbulkan skeptisisme dan bahkan sinisme yang meluas tentang relevansi Pancasila untuk mengatur kehidupan bersama. Tetapi, persoalan politik akhirnya juga berhubungan dengan masalah ekonomi. Di masa Orde Baru diajarkan secara luas baik dalam penataran P4 maupun dalam buku-buku pelajaran di sekolah bahwa bahwa ekonomi Pancasila adalah khas, Indonesia menolak sistem ekonomi komando, yang menentukan bahwa negara mengontrol baik produksi maupun distribusi, tetapi Indonesia juga menolak ekonomi pasar bebas yang pada intinya menyerahkan semua transaksi ekonomi pada pihak swasta dan negara hanya menjadi semacam wasit. Di telinga, ini terdengar seperti rumusan yang ideal. Dalam praktek, situasinya sangat berbeda. Bukan pada tempatnya di sini untuk menjelaskan secara panjang lebar kenapa ada perbedaan antara yang ideal dan kenyataan yang dihadapi. Poin yang ingin saya katakan adalah bahwa anggapan tentang Pancasila yang tidak relevan kemungkinan juga terkait dengan ketidakjelasan pemahaman banyak pemimpin kita menyangkut hubungan antara Pancasila dengan masalah ekonomi. Dalam praktek, tidak ada negara yang murni menganut ekonomi pasar bebas, atau murni menganut sistem ekonomi komando. Kecenderungan globalisasi dan interdependensi dunia dewasa ini juga memperlihatkan beragam aktor dan kekuatan saling berinteraksi dengan cara yang sangat cepat dan tak dapat dikendalikan. Pancasila, dan juga banyak masyarakat di seluruh dunia sama-sama mendambakan tatanan kehidupan yang lebih adil dan bermartabat. Cara kita menterjemahkan keadilan dan martabat dalam kehidupan kongkrit politik dan ekonomi menentukan seperti apa bentuk negara Pancasila yang kita bayangkan. Karena itu salah satu masalah yang terkait dengan pertanyaan tentang apakah Pancasila masih relevan, juga terletak pada kemampuan kita menafsirkan kembali arti Pancasila dan terutama menterjemahkan dengan lebih baik hubungan antara negara dan masyarakat sipil atau rakyatnya. Di bawah Orde Baru, Pancasila diyakini sebagai sistem ideologi dan sistem nilai yang komprehensif, lengkap dan menyeluruh, mengatur bukan hanya kehidupan publik dan politik, tetapi juga kehidupan privat. Akibatnya, Pancasila juga dikembangkan dalam bentuk usaha menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam masing-masing sila Pancasila (dengan cara mencongkel-congkelnya, menurut Almarhum Profesor Umar Kayam), seperti yang pernah kita temui dalam butir-butir P4. Nilai-nilai inilah yang kemudian dicoba disosialisasikan ke masyarakat oleh negara. Ke depan, pemahaman tentang moral Pancasila semacam ini perlu dikaji ulang, mengingat kenyataan bahwa negara sering tidak mampu, dan kalaupun mampu biasanya menuntut harga dan resiko mahal yang harus dibayar ketika mencoba menentukan berbagai kebenaran metafisik (misalnya apakah dibalik realitas ini sesungguhnya roh atau materi), yang sesungguhnya lebih baik diserahkan pada pilihan privat dan menjadi hak warga negara untuk menentukannya sendiri secara bebas. Kembali pada pertanyaan tentang apakah Pancasila masih relevan, karena itu orang juga bisa dengan sangat optimis memberikan jawaban Ya, karena kita memang harus menyelesaikan berbagai masalah mendasar politik, ekonomi dan moral yang sedang kita hadapi dengan cara yang lebih cerdas, namun pendekatannya bukan dengan mengulang Pancasila seperti yang pernah dikembangkan oleh regim Orde Baru, karena visi politik, ekonomi, dan moral Orde Baru nampaknya tidak memadai untuk menjawab relevansi Pancasila untuk masa kini. Jadi, kemungkinan cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan Pancasila sebagai nalar-publik yang merupakan makna penting dan mendasar dari sejarah lahirnya Pancasila yang sudah lama terlupakan.
____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; UGM via SMA~1 Tng)

horoscope

Bintang Anda bintang anda ( 2 - 8 Maret 2009 )

PISCES (19 FEBRUARI – 20 MARET

Bersyukurlah, doa-doa Anda sepertinya terkabul. Jangan sekali-kali berpikir yang aneh-aneh. Jalani hidup dengan wajar. Ikuti aturan dan tetap tanamankan rasa rendah hati. Orang menjadi besar justru karena peduli pada yang kecil. KEUANGAN: Gunakan uang dengan bijak. KESEHATAN: Baik. ASMARA: Sangat menggairahkan. HARI BAIK: Sabtu.

ARIES (21 MARET – 20 APRIL)

Kalau mau mengikuti pekerjaan, tak akan ada habisnya. Jadi Andalah yang membatasi. Waktu bersama keluarga sudah kurang. Kalau di rumah masih mengurusi kantor, kapan untuk keluarga? KEUANGAN: Saatnya belanja bersama keluarga. KESEHATAN: Kurangi makan daging. ASMARA: Terbawa pergaulan. HARI BAIK: Senin.

TAURUS (21 APRIL – 20 MEI)

Karena sama-sama sibuk, rencana yang sudah lama belum juga terwujud. Nanti keburu basi dan kehilangan mood. Tak usah jauh-jauh, kalau mau keluar kota tak harus menginap, kan? KEUANGAN: Dapat bonus bulanan. KESEHATAN: Baru sembuh dari sakit. Waspadai tekanan darah. ASMARA: Kurang komunikasi. HARI BAIK: Rabu.

_______________________________________________________________________________________________

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; Bintang-Indonesia)

otomotif

Si Penjaga Mulut Motor
2009-02-27 21:56:20

1507saringan-axl-1.jpgKata pepatah, mulutmu harimau-mu. Kira-kira maknanya sama dengan anjuran agar kita menjaga mulut mesin. Kalo gak bisa jaga mulut kita, maka mulut harimau yang akan memangsa. Jika mulut mesin yang tak dijaga, semua benda bisa masuk dan merusak mesin. Nah, ini pengalaman pribadi awak redaksi Em-Plus. Itu lho, yang kehilangan sepatu pas mewawancara Valentino Rossi? Ya, Niko Fiandri. Doi emang kalo bicara nyaring, mulutnya terbuka lebar. Tapi bukan mulut itu yang gak terjaga. Melainkan mulut mesin Kawasaki Blitz-nya yang tak terkawal. Moncong karbu yang kudu dilindungi filter, mangap bebas karena tak diisi busa penyaring. Akibatnya luar biasa. Klep in dan out pengok. Uang ratusan ribu melayang buat perbaikan. Sebabnya, sepele. Dua butir besi mirip biji nyelonong lewat boks filter, lalu ke karbu dan nyusup ke ruang bakar. Untung gak sampai merusak piston. 1508saringan-axl-2.jpg Juki alias Kiky Goestiawan langsung buka mulut lebar-lebar. Woy, awas lalat masuk tuh! Kasus Niko mungkin karena orang iseng masukin butiran besi ke boks filter. “Banyak emang yang sembrono soal filter karburator. Terutama yang udah memodif mesin ala balap. Dipikir, buat lancarin aliran udara, filter dicabut. Kan, itu satu-satunya penyaring kotoran ke ruang bakar,” cerocosnya. Makin parah, gak cuma filter dilepas, boks pun dicopot. Yang ini risikonya, kotoran makin gampang masuk ke mesin. Saat mesin hidup, udara mengalir lewat karbu ke mesin. “Pas kita puntir gas, skep terbuka, makin besar kemungkinan debu atau bahkan butiran pasir nyelonong ke ruang bakar,” tukas Juki yang bengkelnya di Jl. Panjang, Jakarta Barat kini jadi rujukan pemakai motor Bajaj. Makanya motor tanpa filter karburator akan lebih cepat rusak. “Yang benar, kalau nyeting karburator, usahain pilot dan main-jet yang dipakai pas dengan suplai udara yang lewat dari filter,” anjur Juki. Jadi, jagalah mulut motormu. Kalo kotor, ya bersihin. Penulis/Foto : Aries/Herry Axl

____________________________________________________________________

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Motorplus)

Gedung-Kesenian

Gedung Kesenian; Harga Mati!!
By redaksi
Minggu, 22-Februari-2009, 07:17:12
Menyoal penting tidaknya Banten memiliki gedung kesenian sama halnya dengan mempertanyakan bagaimanakah seniman memandang dirinya.
(sebuah tanggapan) Oleh Lee Birkin* Nandang Aradea dalam tulisannya yang berjudul ‘Kesenian (Teater) Yang Membangun Ruang’ di Koran ini (1/2) menilai bahwa Banten tidak memerlukan gedung kesenian karena ditakutkan menimbulkan polemic tak berkesudahan. Mulai dari proses pembangunan, kreatifitas seniman yang terbatasi sampai adanya tindak korupsi. Dia juga memberikan solusi ‘alternatif’ berupa komunitas seharusnya bisa membangun ‘ruang’ sendiri, dan dana pemerintah yang diperuntukan membangun gedung kesenian, lebih baik didistribuskan langsung kepada komunitas-komunitas seni. Adalah betul, belajar bisa di mana saja, tetapi miriskah kita melihat anak-anak kita belajar di kandang kambing, kehujanan, kepanasan? Tentu hal itu tidak akan dibiarkan. Bagaimanapun, para orang tua akan lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang layak dibanding kandang kambing. Sekalipun ada yang namanya sekolah alam, dalam pelaksanaannya mereka tetap menata ruang, agar para siswa nyaman belajar. Begitupun dalam kesenian, berkarya bisa dimana saja. Hal itu sudah dibuktikan oleh komunitas-komunitas seni yang ada di Banten. Dari tahun 90’an sampai sekarang, belum adanya gedung kesenian tidak memberangus kreatifitas pelakunya. Mereka mampu membuat ruang-ruang public sendiri, tidak mematikan karya mereka. Sebuah ketahanan tubuh yang luar biasa. Gedung kesenian di suatu daerah merupakan sebuah teturus (baca; eksistensi) akan adanya pertumbuhan dan perkembangan kesenian sebagai produk kebudayaan. Begitu banyak produk kebudayaan di Banten yang memerlukan ruang representatif agar bisa lebih dikenal dan dihargai. Mana mungkin produk kesenian (khususnya seni tradisi) bisa dikenal jika tidak ada tempat untuk repertoar karya-karya seni masyarakatnya. Adanya gedung kesenian di Banten bisa dikatakan adalah mimpi lama para seniman di manapun, termasuk di Banten. Beragam cara sudah digelontorkan, mulai dari yang halus semisal Forum Kesenian Banten membuat “gedung kesenian ‘Kandang Langit Kemul Mega’” di alun-alun Serang, yang diisi aktifitas-aktifitas seni, dan bertahan setengah tahun. Sampai aksi damai di hotel permata saat penyusunan APBD Banten, sehingga disetujuilah pembangunan taman budaya tahap awal (walaupun baru sekedar pondasi). Menyikapi kebutuhan gedung kesenian dari bingkai teater, saya rasa tidak adil. Begitu fungsionalnya kehadiran gedung kesenian bagi tiap komunitas seni apapun. Seni tradisi, teater, musik, senirupa, bahkan sastra. Adalah betul dalam cetak biru pembangunannya, gedung kesenian lebih diperuntukan bagi seni pertunjukan, tapi hal itu tidak menutup pintu bagi bidang seni lainnya. Terlebih yang akan dibangun adalah taman budaya, di dalamnya ada galeri senirupa, wisma, selasar, teater terbuka, grand theatre dan sejumput fasilitas lainnya. Tentunya sekian fisilitas itu bisa mengakomodir ragam kesenian. Penulis pernah berkesempatan ‘menjenguk’ maket Taman Budaya Banten, satu bagian yang dirasa janggal adalah arsitektur ruang gedung utama “Grand Theatre”. Ruangnya tidak didisain seperti umumnya gedung teater, malah lebih seperti ruang serba guna. Alasannya agar bisa dipakai juga acara kawinan. Hal inilah yang perlu dikritisi bahkan dikaji ulang oleh pihak Disbudpar bersama seniman, agar nantinya grand theatre tidak terjadi disfungsi. Mengambil kasus Gedung Kesenian (Kota) Tangerang yang lebih mirip padepokan karena diperuntukan juga bagi IPSI. Soal manajerial gedung kesenian. Hal yang tak bisa dihindarkan adalah pengelolaan nya tetap dinaungi leading sectornya, dalam hal ini Dinas pariwisata dan Kebudayaan. Penetapan harga sewa gedung termasuk fasilitasnya di dalamnya, adalah hak preogratif dinas. Yang bisa kita siasati adalah pihak seniman melakukan bargaining saat awal penentuan harga tersebut sebelum diperdakan. Sebagai contoh Pemda Kab. Muara Enim dalam pengaturan pemakaian Gedung Kesenian, mengenakan biaya bagi pihak swasta (komunitas seni) sebesar Rp. 405.000/hari, termasuk di dalamnya sewa kursi, biaya kebersihan dan sound system. Dengan kelengkapan fisilitas pertunjukan yang ideal, harga itu sebenarnya tidak jadi soal. Jikalau rujukannya adalah Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki tentu saja tidak sepadan. Mengenai korupsi, rahasia umumnya adalah tidak ada satu pun gedung pemerintahan yang terbebas dari kasus korupsi dalam pembangunannya. Termasuk gedung kesenian nantinya, kesempatan korupsi itu pasti datang dari kontraktor dan oknum pejabat. Mulai dari, penyusunan RAB/DASK, proses lelang/tender sampai tahap pembangunanya. Sekalipun pihak seniman yang mengikuti tender itu dan menang, saya sedikit pesimis bisa menghindar dari tindak KKN, mengingat begitu banyak yang terlibat dan kesemuanya merasa berhak mendapatkan sesuatu. Lagi-lagi yang bisa dilakukan seniman adalah melakukan proses kontrol sosial, seniman membentuk tim kecil yang kredibel, bertugas ‘mengawal’ pembangunan gedung kesenian, tentu saja harus dengan perlengkapan perang yang memadai. Semisal tim kecil itu memegang RAB/DASKnya dan kalau mungkin bekerjasama dengan BPK. Upaya ini pernah berjalan, hanya saja seiring dihentikannya anggaran lanjutan tahun berikutnya, maka tim ini bubar(?). Pembangunan gedung kesenian dan bantuan komunitas merupakan dua hal berbeda pos anggarannya. Masing-masing berdiri sendiri. Saat ini, anggaran pemerintah Provinsi/Kab/Kota yang berupa bantuan masih sebatas kegiatan sosial, termasuk di dalamnya kegiatan kesenian. Itu pun dikucurkan hanya bagi komunitas seni tertentu saja, lebih banyak LSM atau Ormas yang sudah terdata. Untuk hal ini pun ada langkah yang bisa diambil seniman untuk merubahnya, yakni mengajukan usulan program dan kegiatan pada saat pembahasan RAB seluruh SKPD yang biasanya terbuka untuk diikuti LSM atau Ormas. Tapi, perjuangan belum selesai bung, program dan kegiatan yang sudah disetujui pemda harus tetap dikawal di meja DPRD sampai ketuk palu. Begitulah sedikit seluk beluk birokrasi yang mesti ditempuh oleh seniman. Gedung kesenian sudah bisa dipastikan akan dibangun tahun 2012, karena tahun itu adalah deadline pembangunan infrastruktur pemerintahan provinsi Banten. Pembangunan Taman Budaya Banten diakhirkan bukan karena pemerintah tidak peduli, tetapi lebih karena pemerintah tidak memahami utuh kebudayaan sebagai sebuah investasi jangka panjang dan pencitraan wilayah. Saya sangat menyayangkan pandangan apatis seorang sutradara Nandang Aradea terhadap keseniannya sendiri. Terlebih dalam tulisannya ada kesan menyepelekan “mimpi bersama” para seniman. Sayang sekali. Gedung Kesenian adalah Harga Mati! Sedikit menyoal tubuh, seorang komedian sejati adalah dia yang mampu mengundang tawa penonton karena kata-katanya bukan tubuhnya!!! Viva Le Acteur. *Penulis anggota teater AnonimuS ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; Radar-Banten)

cerpen

Wajah
Saturday, 28 February 2009
Hening.Inilah negeri tanpa angin.Satu hembusan saja tiada.Kosong, tanpa arah.Sejauh apa pun pandangan dilemparkan, tidak terbentur pada garis cakrawala. Setitik saja, garis itu tiada. Mana ujung mana pangkal,tidak ada yang tebersit.
Memandang atau tidak memandang menjadi sama saja. Sepertinya yang ada hanya putih, atau mungkin inilah yang disebut benderang, atau inikah gelap dalam terang? Cahaya begitu gemilang ditaburkan, sampai-sampai membutakan. Yang Dilihat dengan Yang Melihat sungguh hanya menjadi misteri. Sebab, curahan cahaya atas cahaya itu laksana selimut kabut.Pendarnya memandikan sekujur ruh. Sorotnya menelanjangi diri hingga menembus rongga-rongga.Begitu gemerlapnya hingga pancaran itu menghapus bayang-bayang. Diri lenyap dalam karisma kemilau. Belum lagi memandang, sudah jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan.Memantulkan wajah.Memantulkan cahaya.Memantulkan pesona.Wajah siapa? Yang Melihat berucap, ”Tentu wajahKu sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Sembarangan saja.Wajah itu tiada lain adalah wajahKu.” Yang Melihat berucap, ”WajahMu adalah wajahKu juga.” Yang Dilihat berkata,”Jangan sembarangan menggunakan huruf kapital pada dirimu.”Yang Melihat berucap, ”Itu huruf yang Kau ciptakan sendiri. Kau yang tak lain adalah Aku.” Langit mulai gelisah. Begitu pertama kali diciptakan dengan satu isyarat telunjuk saja, ombak-ombak pada bidang yang teramat lapang itu membentuk gugusan-gugusan mendung. Hitam dan kelabu menjadi warna pertama pada awan setelah biru disaputkan ke seantero langit.Yang Dilihat memang Maha Sabar. Yang Dilihat memberi petunjuk kepada Yang Melihat tanpa menghardik.Yang Dilihat meniupkan angin pertama dan menerbangkan uap-uap.Bola-bola hujan menembus atap surga, berkejar-kejaran, membentuk garis-garis arsiran tipis rapat. Namun, Yang Dilihat belum membuat bunyi dan suara. Hening, tidak terdengar semangat pasukan rintik-rintik.Apalagi, setelah itu mereka lumat ditelan kabut cahaya. Yang Dilihat berkata,”Membenarkan memang bukan dengan cara menyalahkan.” Yang Melihat berucap, ”Apa maksudMu?”. Yang Dilihat tersenyum.Tidak terperi betapa cantiknya. Sepanjang sayap Malaikat dibentangkan,langit penuh pulasan cerah. Merah pertama, jingga pertama, kuning pertama, hitam, biru,nila pertama,ungu pertama, berturut-turutan digariskan. Inilah pelangi pertama, melingkar dari ujung ke ujung, melengkung dari pangkal bertemu pangkal.Selain Yang Dilihat,tidak ada yang benar-benar tahu dari mana titik pelangi ditorehkan. Yang Dilihat berkata,”Aku adalah Aku, kau adalah kau.Aku bukan kau, kau bukan Aku. ”Yang Melihat berucap, ”Mana bisa begitu? Sungguh tidak adil.” Yang Dilihat berkata, ”Akulah Yang Maha Adil.” Yang Melihat berucap, ”Maka, jujurlah pada diriMu sendiri.Aku adalah Kau,Kau adalah Aku.” Para Malaikat tidak mendengar sepetik pun percakapan antara Yang Dilihat dan Yang Melihat.Yang Dilihat belum membuat bunyi dan suara.Para Malaikat diberi sayap, tapi telinga tidak. Hanya pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Belum lagi kehendak Yang Dilihat disabdakan, para Malaikat sudah lebih dulu dikaruniai kondisi paham, patuh, dan tidak bertanya. Mau bertanya bagaimana? Huruf-huruf diciptakan dan disusun bukan untuk para Malaikat. Jibril tidak tahu namanya terdiri atas huruf apa saja. Mikail demikian pula. Izrail pun begitu. Ridwan, Malik, Israfil, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, juga.Muqarrabin tidak luput. Yang Dilihat pun belum merasa perlu membuat jauh dan dekat.Karena dalam keadaan tidak berjarak sekali pun, perdebatan Yang Dilihat dengan Yang Melihat itu tetap menjadi rahasia.Tidak mungkin bocor ke tangan siapapun.Tidak kepada para Malaikat, langit, angin, bola-bola hujan, atau pelangi. Lagipula, mudah bagi Yang Dilihat menghapus seluruh rekaman perbincangan itu. Seperti cahaya menghapus bayang-bayang. Semuanya lenyap dalam karisma kemilau. Jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan.Memantulkan wajah. Memantulkan cahaya.Memantulkan pesona.Wajah siapa? Yang Dilihat berkata, ”Sudah Kufirmankan, itu wajahKu.” Yang Melihat berucap,”Becerminlah. Lihat wajah siapa itu.WajahKu, wajahKu!” Para Malaikat masih saja terhuyung dalam puja-puji. Sayap raksasa, dengan bulu-bulu cahaya yang lebih luas dari semesta, pilar dan rusuk lengan yang maha kekar, dikepak-kepakkan. Para Malaikat hanya dilingkupi dengan satu rasa: bahagia.Para Malaikat terhuyung-huyung dalam nyanyi sunyi. Hening dan kosong. Sampai-sampai tersungkur dalam sujud. Seperti anak burung belajar terbang. Didorong angin,para Malaikat terjun dari pucukpucuk langit,berkelebatan,menembus kabut cahaya, mencari dasar surga. Sampai-sampai tersungkur dalam sujud,para Ma-laikat tidak juga menemukan mula dan akhir. Tapi,para Malaikat itu tidak bertanya. Mau bertanya bagaimana? Hurufhuruf diciptakan dan disusun bukan untuk para Malaikat. Terbang, hanya terbang, mata belum dibukakan bagi para Malaikat.Sayap,hanya sayap, telinga belum diciptakan untuk para Malaikat. Hati, hanya hati, pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Jibril berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Mikail berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Izrail berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Ridwan berseru,”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Malik berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Israfil berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Munkar berseru,”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Nakir berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Raqib berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Atid berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Muqarrabin berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Koor, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Para Malaikat tidak tahu dengan huruf- huruf apa pujian itu disusun. Para Malaikat tidak tahu nama-nama para Malaikat terdiri atas huruf apa.Para Malaikat paham,patuh,dan tidak bertanya.Para Malaikat tersungkur dalam sujud, kemudian bangkit, mengepakngepakkan sayap, dan meluncur lagi dari pucuk-pucuk langit. Sayap para Malaikat bersentuhan, merentang, mengukur seberapa lapang langit dibentangkan.Tak menemu awal, tak menemu akhir. Tiada yang kekal selain wajahKu, puji para Malaikat tanpa kata tanpa ucap tanpa mimik. Hanya pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Bangkit, terbang, tersungkur, bangkit, terbang, tersungkur, bangkit, terbang, tersungkur, dari pucuk-pucuk langit mencari dasar surga. Tidak menemu, tidak menemu. Hanya memuja, hanya memuji. Yang Dilihat berkata,”Kebenaran bahkan tidak butuh bunyi dan suara.” Yang Melihat berucap, ”Aku juga diam atas peristiwa.” Yang Dilihat berkata, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Yang Melihat berucap, ”Maha Benar itu. Tiada yang kekal selain wajahKu.” Yang Dilihat berkata,”WajahKu.” Yang Melihat berucap,”WajahKu.” Cermin yang berserakan direngkuh Yang Dilihat. Dirangkai, seperti rusuk hilang yang menggenapi rongga. Sudut berjodoh sudut,siku mengawini siku, utuh sebagai bentuk. Menjadi cermin seluas langit.Memenuhi surga yang kosong. Menjadi kornea yang menerima cahaya,menjadikannya menyaksikan, bersaksi. Surga menjadi rumah kaca.Ke manapun berpaling, di sanalah wajahKu ada. Para Malaikat dengan sayap raksasa, dengan bulu-bulu cahaya yang lebih luas dari semesta,dengan pilar dan rusuk lengan yang maha kekar, tidak terpantul pada cermin.Para Malaikat tidak mewujud.Para Malaikat hanya memiliki bentuk, wujud tidak. Berkelebat dari mana ke mana, dari sini ke sana, tak satu noktah pun gerak-gerik para Malaikat ada pada cermin.Para Malaikat itu tiada.Tidak sesungguhsungguhnya ada. Hanya wajahKu, hanya WajahKu,yang Ada. Bukan berada, tapi Ada. Yang Dilihat berkata,”Hanya Aku, Aku yang Wujud.” Yang Melihat berucap, ”Pasti Kau memandangnya dari cermin. Mengakulah, itu wajahKu.”Yang Dilihat bertanya,” Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, Kau Yang Maha Tahu lebih tahu jawabnya.” Yang Dilihat bertanya,”Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, Yang Menanya lebih tahu dari Yang Ditanya.” Yang Dilihat bertanya, ”Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab,” Sungguh,tanpa mata pun Aku telah bersaksi.” Yang Dilihat bertanya,” Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, sudah jelas itu wajahKu.” Yang Dilihat berkata,” WajahKu.” Tiada wajah selain wajahKu. Tiada yang kekal selain wajahKu. Ke mana pun berpaling, di sanalah wajah- Ku. Rumah kaca memantulkan wajahKu. Memantulkan cahaya- Ku. Memantulkan pesonaKu. WajahKu semata. Cermin saksiKu, kau saksiKu. Yang Melihat berucap, ”Kau saksi Engkau sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Dikaulah saksiKu.” Yang Melihat berucap, ”Aku tak lain adalah Kau.Aku saksi DiriKu sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Aku Ada, kau tiada. Aku Wujud, kau bentuk.” Yang Melihat berucap,”Ada tidak butuh saksi. Ada ada karena Adanya sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Kau bersaksi untuk dirimu sendiri.” Yang Melihat berucap, ”Iya, Aku bersaksi untuk DiriKu sendiri.” Yang Dilihat berkata,”Kau bersaksi atas Adanya Aku untuk dirimu sendiri.” Yang Melihat berucap,”Untuk apa? Aku bersaksi untuk DiriKu sendiri.” Sungguh,kau tidak tahu.Sungguh, Kau Maha Tahu. Aku tak lain adalah Kau.Aku Aku,kau kau.Aku Aku,Engkau Engkau, Aku Engkau, Engkau Aku.Langit bergemuruh.Sangkakala pertama ditiupkan. Melengking, menyayat. Menggelegaklah angkasa.Hening tercerabut. Langit guncang. Langit gempa. Langit terbelah. Melepuh butir-butir hujan yang masih dierami mendung. Pasukan rintik-rintik lenyap seketika. Awan-awan kerontang buyar tercabik- cabik. Deru angin menderapderap laksana pacuan yang lepas kendali. Sayap para Malaikat menyangga langit yang hampir runtuh. Ubunubun langit tecercap hingga ke akarakar surga. Bunyi pertama, suara pertama, tiupan Sangkakala, menggaris semesta dengan ranting-ranting yang berlarian, dengan alur-alur yang membentuk retakan, deras seperti anakanak sungai berlari kencang mencapai garis pantai. Rumah kaca pecah berserakan, tersungkur dalam sujud. Semuanya, semuanya, semuanya sirna. Tak berbekas, tak bersisa, seperti tidak pernah ada. Memang tidak pernah ada,tiada. Senyap sudah negeri tanpa angin. Satu hembusan saja tiada. Kosong. Tanpa arah. Sejauh apapun pandangan dilemparkan,tidak terbentur pada garis cakrawala. Setitik saja, garis itu tiada. Mana ujung mana pangkal, tidak ada yang tebersit. Memandang atau tidak memandang menjadi sama saja. Sepertinya yang ada hanya putih, atau mungkin inilah yang disebut benderang, atau inikah gelap dalam terang? Cahaya begitu gemilang ditaburkan, sampaisampai membutakan. Yang Dilihat dengan Yang Melihat sungguh hanya menjadi misteri. Sebab, curahan cahaya atas cahaya itu laksana selimut kabut. Pendarnya memandikan sekujur ruh.Sorotnya menelanjangi diri hingga menembus rongga-rongga. Begitu gemerlapnya hingga pancaran itu menghapus bayang-bayang. Diri lenyap dalam karisma kemilau. Belum lagi memandang, sudah jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan. Memantulkan wajah. Memantulkan cahaya. Memantulkan pesona. Wajah siapa? (*) Timuran,2006 Candra Malik, bergiat di Komunitas Omah Mulih di Solo. ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; koran~SINDO)

berita~Budaya

Harmoni Gerak Kungfu dan Tari Kontemporer
Sunday, 01 March 2009
DALAM kurun waktu kurang lebih setengah jam, banyak hal yang ingin disampaikan oleh koreografer asal Taipei ini. Penonton pun seakan dibombardir dengan berbagai perspektif Lin Yuan dalam menyikapi hidup,dalam melihat dilema yang terjadi di masyarakat, tanpa sekalipun bermaksud menggurui.
Lin Yuang yang mengaku tidak tahan dengan estetika kaku yang harus dibawakan, memutuskan untuk membuka diri terhadap cara-cara lain dalam berekspresi di panggung. Jawabannya? Perpaduan antara tari kontemporer sekaligus teater.Pertunjukkan tari kontemporer Kungfu Dancing & Entre-Deux ini sebagai hasil dari perenungan dan pertanyaan yang sering muncul di benaknya. Sebuah paradoks yang mengganggu ketenangan jiwanya. Sebuah pertanyaan sederhana dan tidak dibutuhkan seorang profesor cerdas untuk menjawabnya; semua orang bisa pergi ke bioskop,tapi mengapa hanya segelintir orang yang menonton tari kontemporer ? ”Karenanya dari pada mengotak-ngotakkannya, bagaimana kalau kita coba menggabungkan kedua pertunjukkan yang berbeda tersebut,”ujar Lin Yuang yang telah masuk ke Opera Beijing menginjak usia 11 tahun ini. Tidak perlu menangkap makna tersirat dalam pertunjukkan yang dibawakannya. Dilema tersebut secara gamblang tertera jelas dalam sebuah layar putih yang terpantul dari hasil proyeksi. Dalam gerakan meliuk-liuk yang menggabungkan seni tari dan gerakan kungfu eksotis seraya dibanjiri cahaya lampu, membuat bayangan Lin Yuang menjadi siluet tersendiri di tengah panggung. Masih sambil menampilkan harmonisasi seni gerak kontemporer sekaligus kungfu, di layar muncul tulisan, ”Lebih mudah menonton kungfu daripada tarian kontemporer,” katanya. Begitulah berturut-turut di layar muncul buah pikir Lin Yuang yang menurutnya tidak hanya cukup dikeluarkan dalam bentuk tarian semata. ”Kita memandangnya, melihatnya, ia tidak terlihat. Di luarnya tidak gemerlap, di dalamnya tidak gelap. Dalam gerakan tiada henti ia dapat jadi nyata, ia bentuk tanpa bentuk.Gambar tanpa gambar.Ia licin dan tidak terpegang. Melihatnya datang, kita tidak melihat di mana ia berawal. Mengikutinya, kita tidak melihat di mana ia berakhir,” ucapnya. Rasanya belum lengkap membicarakan filsafat hidup tanpa menyinggung ajaran Lao Tzu dengan Taoismenya. Terlebih lagi ilmu kungfu tidak terlepas dari Taoisme yang mengajarkan bagaimana menciptakan keseimbangan antara tubuh dan jiwa.Sebagai seseorang yang mendalami kungfu sejak usia belia, Lin Yuang menjadikan prinsip Taoisme sebagai pedoman hidupnya. Prinsip inilah yang ingin dibagi kepada penonton. Taoisme yang berati tidak berbentuk, tidak terlihat, tetapi merupakan asas atau jalan atau bisa juga disebut sebagai cara kejadian kesemua benda hidup dan segala benda yang ada di alam semesta dunia ini. Benda-benda yang ada di alam inilah yang menciptakan keseimbangan hidup manusia. Sekali lagi di layar muncul tulisan yang seolah semakin menegaskan ajaran Taoisme yang ingin dibagi kepada penonton. ”Semua orang mempertahankan yang bagus, di sinilah letak keburukannya. Kemudahankesulitan, panjang-pendek,tinggi-rendah,semuanya saling menyatu dan memberi warna pada alam,”tandasnya. Tulisan berubah berganti dengan sebuah filosofi hidup yang pantas untuk direnungkan, menikmati suguhan gabungan sinema dengan teater ini, seakan tidak ada habisnya. Tidak cukup waktu setengah jam untuk mentransferkan berbagai unek-unek Lin Yuang beserta ajaran Taoisme yang ingin disampaikan. Namun,Lin Yuang mencoba memadatkan apa yang diketahuinya dalam kurun waktu yang diberikan sehingga penonton seolah tidak diberi kesempatan untuk bernapas dan menelaah aspirasi yang dibawakan. Pertunjukkan ditutup dengan gambar yang mendeskripsikan kehidupan masyarakat di sebuah perkotaan yang tidak kunjung berjeda. Berbagai jenis kendaraan berseliweran bersamaan dengan manusia yang mencoba bertahan hidup dalam hiruk-pikuk perkotaan. Tampak gambar ratusan anak ayam berdesak-desakan dalam sebuah peternakan, yang seakan berlomba-lomba dengan manusia yang jumlahnya semakin padat menyesaki bumi. Lin Yuang mengibaratkan hal tersebut sebagai ritme kehidupan yang tidak pernah berhenti. Alam menyediakan lahan yang luas bagi manusia, namun menjadi semakin sempit dengan pertumbuhan angka manusia yang fantastis. Meningkahi hiruk-pikuk dunia, Lin Yuang mencoba bertanya. ”Apakah Anda memiliki waktu lima menit saja dalam sehari untuk tidak memikirkan dan melakukan apapun?”tanyanya. (sri noviarni) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; koran~SINDO)

lomba~Foto&Mengarang

LOMBA FOTO & MENGARANG dalam-rangka HUT ke-22 HARIAN UMUM SUARA PEMBARUAN

TEMA :

Lomba Mengarang : Jakarta Nyaman dan Ramah Lingungan Lomba Foto : Kehidupan Jakarta

KETENTUAN UMUM

1. Karya harus asli, belum pernah diikut-sertakan dalam lomba serupa dan belum pernah dipublikasikan (untuk foto tidak ada rekayasa digital kecuali cropping & pencahayaan). 2. Karya yang masuk ke Panitia menjadi milik Panitia, termasuk dalam hal publikasi dengan tetap menyebut nama pengarang/fotografer. 3. Pemenang akan diumumkan di HU Suara Pembaruan tanggal 20 April 2009. 4. Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat.

KATEGORI PESERTA Peserta lomba adalah pelajar SMU atau sekolah yang sederajat di DKI Jakarta, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari sekolah atau kartu pelajar.

KETENTUAN KHUSUS

1. Lomba Mengarang a. Karangan sesuai dengan tema. b. Panjang karangan 800 – 1.000 kata, ditulis dengan jenis huruf Times Roman, font 12. c. Karangan dikirim dalam bentuk hard copy (print di kertas A4) dan soft copy (CD), dilengkapi identitas lengkap, termasuk nomor telepon dan kartu pelajar/surat keterangan sekolah. d. Pojok kiri atas sampul ditulis: Lomba Mengarang SP.

2. Lomba Fotografi a. Foto sesuai tema, dilengkapi judul dan nama lengkap di balik foto. b. Foto dicetak di atas kertas Fuji dengan ukuran 10R dan dalam bentuk digital (CD). c. Setiap peserta bisa mengirimkan maksimal 3 (tiga) karya terbaiknya. d. Pojok kiri atas sampul ditulis: Lomba Fotografi SP.

HADIAH Pemenang masing-masing lomba akan mendapatkan :

Juara I : Tabungan Rp 3.000.000 + Sertifikat Juara II : Tabungan Rp 2.000.000 + Sertifikat Juara III : Tabungan Rp 1.000.000 + sertifikat

Harapan I : Tabungan Rp. 750.000 + Sertifikat Harapan II : Tabungan Rp. 500.000 + Sertifikat 10 karya terbaik (diluar pemenang) : Handphone +Sertifikat

PENDAFTARAAN PESERTA Naskah dan foto diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 4 April 2009. Hasil karya peserta berupa karangan & foto dikirim via pos ke Jl. Dewi Sartika No. 136 D, Cawang, Jakarta Timur 13630 atau diantar langsung.

Info lebih lanjut : Telp. 021-8088 7547 (direct) Telp. 8013208 ext. 122 (Iriani) & 220 (Jeanne) Email : promosi@suarapembaruan.com www.suarapembaruan.com ___________________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; Suara-Pembaruan)

fenomena~Ponari

ZOOMFenomena Ponari di Tengah Masyarakat Anomi ANTARA/Andika Wahyu Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi (kanan), bercanda dengan Ponari (tengah) yang telah berganti nama menjadi Ari Rohmatulloh saat kunjungan ke SDN 1 Balongsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/2). Ponari yang dikenal sebagai "penyembuh kecil" itu kembali bersekolah sehingga praktek penyembuhan ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan, sambil mencari formulasi praktik yang terbaik bagi Ponari dan pasiennya. Selama dua minggu terakhir, perhatian mata publik tertuju ke Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Media massa cetak, apalagi media televisi, menghadirkan berbagai sisi peristiwa yang luar biasa itu ke hadapan pembaca dan pemirsa. Di sana ada praktik pengobatan oleh Muhammad Ponari (10). Batu kecil sebesar kepalan tangan anak-anak, menurut penuturan nenek Ponari, Mbah Legi, tiba-tiba jatuh ke kepala cucunya saat mandi hujan, bersamaan dengan datangnya suara petir pada 17 Januari lalu. Batu berwarna cokelat itu dibawa pulang ke rumah dan sempat dibuang ke semak-semak. Tetapi, batu itu kembali lagi ke rumah Ponari dan diyakini bertuah, lalu dimanfaatkan untuk sarana pengobatan. Setiap hari ribuan orang datang ke rumah orangtua Ponari, Kamsin (42) dan Mukaromah (28). Mereka datang untuk mencari kesembuhan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang sakit. Kabar dari mulut ke mulut tentang keampuhan batu ajaib milik Ponari membuat pasien semakin membeludak. Bahkan, ada pasien yang meninggal dunia saat antre berobat. Pascaperistiwa tragis itu, aparat Kepolisian dan Pemerintah Kabupaten Jombang untuk sementara menutup praktik pengobatan dan mengungsikan Ponari. Tetapi langkah itu ternyata justru membuat warga yang ingin berobat semakin bertambah. Mereka tetap berharap Ponari kembali berpraktik dan Dusun Kedungsari pun kembali membuat cerita. Tidak Masuk Akal Dalam pandangan sosiolog dari Universitas Indonesia, Hanneman Samuel, praktik penyembuhan oleh Ponari sebetulnya tidak masuk akal. Apalagi, hal itu terjadi pada abad ke-21, di mana kemajuan ilmu kedokteran begitu pesat, sehingga hampir tak ada satu penyakit pun yang tak bisa disembuhkan. Menurutnya, fenomena Ponari terkait dengan persoalan dasar, yakni semakin beratnya kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Pascareformasi 1998, beban kehidupan rakyat terasa semakin berat. Pekerjaan sulit didapat, harga kebutuhan pokok membubung, dan kesejahteraan semakin jauh dari jangkauan. Kondisi itu membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Janji-janji pemerintah dan elite di awal reformasi, yakni adanya kehidupan yang lebih baik, ternyata tak kunjung datang. Yang lebih parah, tidak ada kepastian bahwa kehidupan di masa mendatang bisa lebih baik. Masyarakat mulai frustrasi dan kekurangan harapan akan perbaikan kehidupan. Harapan yang mulai pupus, ditambah ketidakapastian, membuat sebagian warga kehilangan arah. Wujudnya, mereka melakukan aktivitas yang oleh sebagian orang dianggap tidak rasional, tetapi justru bagi pasien dan keluarganya, sangat rasional. Dalam sosiologi, kata Hanneman, kondisi di atas disebut sebagai masyarakat anomi (anomie). Terkait hal itu, dia mengingatkan agar fenomena Ponari tidak ditarik ke ranah agama. Fenomena Ponari terkait dengan urusan kesejahteraan rakyat, khususnya menyangkut pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan di sini, tak hanya menyangkut kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan sosial, spiritualitas, dan kejiwaan. "Ponari justru dimanfaatkan orang-orang dekatnya untuk menambah pundi-pundi mereka. Pemerintah harus memperbaiki pelayanan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Fenomena Ponari jangan dikaitkan dengan urusan agama atau keinginan sebagian orang untuk kembali ke era Orde Baru. Fenomena Ponari murni fenomena sosial di tengah masyarakat anomie," tegasnya. Sementara itu, sosiolog yang juga Ketua Program Studi Pascasarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winaryo mengatakan fenomena masyarakat yang berbondong-bondong datang berobat ke Ponari, bukan semata-mata karena tidak memiliki uang. Hal itu terjadi karena intervensi medis, baik di puskesmas maupun praktik-praktik dokter umum, bahkan dokter spesialis, tidak mampu menuntaskan penyakit pasien. "Umumnya, dokter hanya memandang pasien sebagai komoditas atau barang, yang jika sakit harus diberi obat, titik. Padahal setiap pasien selain memerlukan obat, juga komunikasi humanistik yang dapat membuat jiwa mereka tenang," ujarnya. Pada umumnya masyarakat Indonesia memiliki sifat ambigu. Di satu sisi, masyarakat tetap percaya peran dokter dan obat-obat modern, tetapi juga memiliki keyakinan yang sangat kental terhadap hal-hal yang bersifat mukjizat, walaupun itu irasional. Oleh sebab itu, fenomena Ponari harus disikapi secara bijaksana oleh pemerintah, khususnya Departemen Kesehatan. Institusi kesehatan ditantang untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. "Peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya menengah ke bawah bisa dilakukan dengan menerapkan pola medical integrated process. Ya medik, ya komunikasi humanistik, plus teologis," ujar Wahyudi. Eksploitasi Anak Meski ribuan orang dan beberapa kerabat mendorong Ponari terus memanfaatkan batu ajaibnya, sang bocah justru menginginkan hal sebaliknya. Ia mulai enggan berpraktik dan sangat ingin kembali ke sekolah. Akhirnya, sejak Kamis (26/2), praktiknya resmi ditutup dan Ponari berharap bisa menjalani masa anak-anaknya dengan bersekolah dan bermain. Keinginan si bocah didukung Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Menurutnya, panitia praktik pengobatan Ponari dapat dipidanakan karena telah melakukan eksploitasi anak. "Kalau polisi jeli, mereka (panitia, Red) dapat dipidanakan karena melakukan eksploitasi anak," katanya seperti dikutip Antara. Menurutnya, banyak hal yang menunjukkan adanya eksploitasi terhadap Ponari, antara lain hilangnya kebebasan anak itu untuk bermain, belajar, maupun mendapatkan kasih sayang. Ia menduga ada pihak yang menyusun skenario di belakang ketenaran Ponari. "Banyaknya pasien yang berdatangan ke rumah Ponari merupakan bentuk perlawanan atau protes orang miskin terhadap pelayanan kesehatan. Hal itu membuktikan kegagalan Departemen Kesehatan," tegas Arist. [070/080/A-16] ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Suara-Pembaruan)

HIBURAN

Hetty Koes Endang
Pamit dari Dunia Hiburan

ANTARA/WIDODO

PENGABDIAN kepada suami di atas segalanya. Itulah sikap penyanyi senior Hetty Koes Madewy atau lebih dikenal dengan Hetty Koes Endang. Artis kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1957 ini menyatakan berhenti dari dunia tarik suara. "Sampai kapan pun saya tidak akan kembali lagi," ujarnya kepada pers saat mengikuti sidang suaminya, Yusuf Erwin Faishal, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, kemarin. Pernyataan artis serbabisa ini sungguh mengagetkan. Ketika ditanya apa sebabnya, Hetty menjawab, "Saya enggak boleh nyanyi lagi sama Bapak gara-gara kasus ini." Saat ini, Yusuf duduk sebagai terdakwa dalam kasus dugaan korupsi alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang dan dalam kasus pelulusan anggaran sistem komunikasi radio terpadu pada Departemen Kehutanan. Meskipun tidak bisa lagi menghibur masyarakat Indonesia, Hetty tak kecewa. "Ini adalah bentuk pengabdian saya kepada suami," ujarnya. Ia tampak tegar meski kadang tak kuasa menyembunyikan cobaan berat yang menerpanya itu. Selain setia mendampingi suami dalam persidangan, Hetty selalu membawa makanan untuk Yusuf. "Saya bawa rawon sama pastel buatan sendiri untuk Bapak buka puasa," tutur artis yang belakangan kerap menjadi juri dalam sebuah kontes menyanyi di sebuah televisi swasta ini. Dari perkawinannya dengan Yusuf Erwin Faishal, Hetty dikaruniai empat anak, Ameer Mahmed, Afifah Qamariah, Suci Melani, dan Ismail.(*/X-4) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Media-Indonesia)

HIBURAN

Rossa Sering Grogi Ketika "Manggung"
Jumat, 27 Februari 2009 19:24 WIB

MI/THERESIA MELIANA

BANDUNG--MI: Meski telah memiliki jam terbang yang tinggi di dunia tarik suara, pelantun lagu "Ayat-Ayat Cinta," Rossa, mengaku masih gerogi dan merasa mules ketika harus bernyanyi di atas panggung dan di depan penonton. "Nggak tahu yah, setiap kali mau on stage, pas rasa gerogi dan mules itu ada, apalagi nanti di konser tunggalku yang bakal diadain di Bandung" kata Rossa, usai jumpa pers "Konser Persembahan Cinta", di Bandung, Jumat(27/2). Ia mengatakan, Kota Bandung bisa dikatakan sebagai "Rumah Kedua" bagi dirinya. "Wajar kalau aku bakal grogi di konser nanti, karena Bandung itu rumah kedua ku, dan seperti yang nonton itu temen-temen sekolah dan keluargku, dan seperti itu akan membuat aku semkin gerogi dan mules," kata penyanyi yang biasa dipanggil Teh Ocha ini. Setelah sukses menggelar konser tunggalnya dengan tajuk "Konser Persembahan Cinta", di Jakarta dan Surabaya, Rossa, siap menggelar konser tersebut di Kota Bandung pada hari Rabu, 4 Maret 2009. "Seneng banget, karena akhirnya saya bisa menggelar konser di rumah kedua saya, yaitu Kota Bandung," kata pelantun hits "Tegar". Ia mengatakan, secera konsep, konser tunggal yang akan dilaksanakan di The Venue Eldorado Bandung, masih sama dengan konsep yang diadakan di Jakarta dan Surabaya. "Secara konsep kita masih sama dengan di Jakarta dan Surabaya, yang membeda itu ialah nanti bakal muncul guest star yang istimewa banget buat "Urang Bandung", katanya. Menurut dia, dalam konser tersebut, dirinya akan mempersembahkan 20 lagu terbaiknya kepada warga Bandung. Dalam konser itu, ia masih dibantu oleh Erwin Gutawa dan Jay Subiayakto. "Alhamdulliah, dalam konser tunggal di Bandung ini, saya masih dibantu oleh Mas Erwin dan Jay," kata dia. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa "Konser Persembahan Cinta" yang akan diadakan di Kota Bandung, bisa dikatakan sebagai konser kenangan dan konser keluarga besarnya. "Seperti konser tunggalku di Kota Bandung itu bisa disebut sebagai konser kenangan dan keluarga besar," katanya. (Ant/OL-02) ___________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; Media-Indonesia)

berita~SAINS

Badai Matahari Diperkirakan Muncul 2011-2012
Rabu, 24 Desember 2008 01:19 WIB

crayonpedia.org

JAKARTA--MI: Badai matahari, suatu fenomena yang diperkirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012, tidaklah berakibat kiamat, kata Pakar Antariksa dari LAPAN, Dr thomas Djamaluddin. Tahun 2011-2012, diakui Djamal, di Jakarta, Selasa, adalah puncak aktivitas matahari yang mempunyai periode sekitar 11 tahun, jadi puncak aktivitas matahari pernah terjadi pada 1979, 1989, dan 2000. Pada saat puncak aktivitas itu, bintik matahari meningkat jumlahnya akibat aktivitas magnetiknya dan mendadak berpengaruh terhadap ruang antar planet. Pada saat-saat itu frekuensi kejadian lontaran partikel berenergi tinggi dan emisi gelombang elektromagnetik berupa percikannya juga meningkat. Namun menurut dia, badai matahari merupakan bagian dari cuaca di antariksa yang mirip dengan cuaca di bumi, hanya saja sifatnya berbeda. Ia menjelaskan, badai matahari tidak berdampak langsung pada manusia, namun tetap berdampak pada benda-benda astronomi yang berada di sekitarnya. Gangguan yang perlu dicermati menurut dia, hanya pada sistem teknologi yang ditempatkan di antariksa seperti satelit komunikasi dan navigasi serta sistem teknologi di bumi yang rentan terhadap induksi partikel energetik dari matahari yang masuk ke bumi lewat kutub. Bila terjadi badai matahari potensi bahaya hanyalah kemungkinan rusaknya atau terganggunya satelit yang mengakibatkan antara lain gangguan telepon, siaran TV yang memanfaatkan satelit, serta jaringan ATM. ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Media-Indonesia)

berita~SAINS

Gerhana Matahari Cincin Pengaruhi Air Laut
Senin, 26 Januari 2009 18:20 WIB

Reuters

SURABAYA--MI: Gerhana matahari cincin hanya akan mempengaruhi pasang-surut air laut di perairan Laut Jawa, kata prakirawan cuaca Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim, Tanjung Perak, Surabaya, Supeno, Senin(26/1) sore. "Gerhana matahari tidak banyak memberikan pengaruh pada ketinggian gelombang, kecuali pada pasang-surut air laut," katanya menjelaskan. Ia menyebutkan pasang maksimum air laut di Tanjung Perak, Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB mencapai 110 sentimeter, sedangkan di Pantai Kenjeran mencapai 100 sentimeter. Sementara itu, untuk perairan di sebelah utara dan selatan Jawa Timur sama sekali tidak terpengaruh dengan peristiwa gerhana matahari yang terjadi Senin sore mulai pukul 15.21 WIB hingga pukul 16.42 WIB itu. "Gelombang Laut Jawa di utara Jawa Timur dan Samudera Indonesia di selatan Jawa Timur hari ini kondusif," kata Supeno. Meski begitu, dia meminta nelayan dan nakhoda kapal mewaspadai cuaca pada malam hari yang diperkirakan akan terjadi hujan lebat dengan kecepatan angin berkisar antara 10 kilometer hingga 25 kilometer per jam. Supeno menambahkan, gerhana matahari cincin tidak bisa dilihat langsung dari wilayah Jawa Timur. Gerhana itu hanya bisa dilihat dari sebelah barat Pulau Jawa dan bagian timur Pulau Sumatera. (Ant/OL-06) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Media-Indonesia)
Gerhana Matahari Cincin Pengaruhi Air Laut
Senin, 26 Januari 2009 18:20 WIB 107 Dibaca | 0 Komentar

Reuters

SURABAYA--MI: Gerhana matahari cincin hanya akan mempengaruhi pasang-surut air laut di perairan Laut Jawa, kata prakirawan cuaca Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim, Tanjung Perak, Surabaya, Supeno, Senin(26/1) sore. "Gerhana matahari tidak banyak memberikan pengaruh pada ketinggian gelombang, kecuali pada pasang-surut air laut," katanya menjelaskan. Ia menyebutkan pasang maksimum air laut di Tanjung Perak, Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB mencapai 110 sentimeter, sedangkan di Pantai Kenjeran mencapai 100 sentimeter. Sementara itu, untuk perairan di sebelah utara dan selatan Jawa Timur sama sekali tidak terpengaruh dengan peristiwa gerhana matahari yang terjadi Senin sore mulai pukul 15.21 WIB hingga pukul 16.42 WIB itu. "Gelombang Laut Jawa di utara Jawa Timur dan Samudera Indonesia di selatan Jawa Timur hari ini kondusif," kata Supeno. Meski begitu, dia meminta nelayan dan nakhoda kapal mewaspadai cuaca pada malam hari yang diperkirakan akan terjadi hujan lebat dengan kecepatan angin berkisar antara 10 kilometer hingga 25 kilometer per jam. Supeno menambahkan, gerhana matahari cincin tidak bisa dilihat langsung dari wilayah Jawa Timur. Gerhana itu hanya bisa dilihat dari sebelah barat Pulau Jawa dan bagian timur Pulau Sumatera. (Ant/OL-06) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

berita~TI

AVG dan Microsoft Bersaing Ketat Sediakan Layanan Anti Virus Gratis
Senin, 24 2008 12:57 WIB

AMSTERDAM--MI: AVG, penyedia piranti lunak anti-virus dan keamanan Internet dengan lebih dari 85 juta pengguna di 167 negara, hari ini merespon pengumuman Microsoft atas produk piranti lunak anti-virus cuma-cuma yang akan beredar pada pertengahan 2009. AVG, yang selama delapan tahun menawarkan piranti lunak anti-virus cuma-cuma kepada pengguna di seluruh dunia, memperhatikan banyak tantangan yang dihadapi Microsoft dalam mendukung produk piranti lunak anti-virus cuma-cuma -- yang terutama di antaranya amat mahalnya biaya perusahaan untuk layanan pelanggan dan bantuan, dan juga manajemen dan pembaruan produk yang tengah berlangsung. Microsoft kemungkinan juga akan menghadapi kecaman sengit dari mitra saluran yang tidak puas, yang margin dan penjualan unitnya akan mengalami kerugian akibat penawaran produk gratis, demikian anggapan AVG. "Selama lebih dari delapan tahun, AVG telah mengakui dan merespon ancaman global malware dengan menawarkan alat cuma-cuma dan menyeluruh untuk mencegah virus komputer, spyware, malware dan ancaman online," kata J.R. Smith, CEO perusahaan ini. "Microsoft jelas mengekor kepemimpinan kami, yang tentu saja akan ikut memerangi ancaman dasar dan yang kurang canggih. Namun ancaman sejati dalam skenario ini adalah untuk keuntungan dan hubungan dengan mitra saluran Microsoft." AVG juga menyoroti tantangan yang dihadapi Microsoft untuk terus mengikuti penyebaran ancaman online baru dan yang semakin menyusahkan. Microsoft seringkali mengandalkan pada pembaruan patch Tuesday bulanannya untuk memperbarui produk anti-virus terkininya, yang membiarkan para pengguna komputer mudah kena botnet dan serangan ganas lain. Yang penting, piranti lunak anti-virus cuma-cuma Microsoft akan memiliki fitur yang sangat kurang melindungi daripada penawaran OneCarenya saat ini -yang meningkatkan lebih lanjut kerentanan pengguna komputer terhadap virus yang cepat menyebar dan ancaman lain. Statistik menyoroti peningkatan masalah ini. Infeksi komputer akibat malware bertambah menurut deret ukur. Tim penelitian di perusahaan AVG memperhatikan bahwa 50.000 varian tengah dikeluarkan setiap hari - yang semakin mendesak perlunya perlindungan seketika. Fitur LinkScanner AVG memberikan perlindungan terkini terhadap ancaman terbaru. Lagi pula, produk anti-virus peraih penghargaan AVG telah lama diakui karena memberikan keamanan komputer yang maksimal dan perlindungan online dengan beban sumber daya yang minimal. Dari perspektif perlindungan global, AVG telah mengukuhkan kehadiran di pasar yang sudah mapan dan sedang muncul. Rencana pertumbuhan strategis perusahaan ini mencakup perkenalan beberapa versi bahasa asal baru program anti-virusnya dalam beberapa pekan mendatang. Lebih dari itu, komunitas dukungan pengguna di seluruh dunia perusahaan ini -- dengan karyawan dan usaha kecil dari 167 negara -- terus berkembang sebagai satu-satunya jaringan "swadaya" industri tersebut. "Kemudahan penggunaan yang luar biasa dan kesederhanaan produk AVG telah lama menjadi keunggulan penjualan bagi saluran, yang lebih memperkuat keamanan dan memberi kegunaan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada penawaran anti-virus Microsoft," tambah Smith. "Mengingat masa-masa krisis ekonomi yang sulit ini, para agen kami menghargai margin produk kuat yang kami tawarkan dan gairah komunitas pengguna akhir kami yang ikut mendorong penjualan di masa depan." (Ant/OL-02) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Media-Indonesia)

music~NEWS

Dua Konser Besar Dwiki Darmawan di Tahun 2009
Senin, 2 Maret 2009 | 18:13 WIB

JAKARTA, SENIN — Dwiki Darmawan, pemimpin World Peace Orchestra (WPO), bakal menggelar dua konser besar yang sama-sama mengangkat tema perdamaian dan multikultur Indonesia.

"Konser ini mensinergikan musik dengan musisinya serta sebagai wadah promosi bagi pariwisata Indonesia di dunia internasional," terang Dwiki di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (2/3).

Konser pertama dilakukan pada acara pembukaan Tour the Singakarak di Padang, 29 April 2009. Menurut suami Ita Purnamasari ini, konsernya di Padang adalah konser musik Symphonic, yang baru pertama kalinya dibuatnya.

"Konser di Padang ini mengandalkan kekuatan musik lokal mencapai 100 musisi tradisional Minang dan Nasional," terang Dwiki. Musisi lokal itu di antaranya Halims, seniman Minang; dan Denis Hulio, solois satu-satunya asal Minang.

Menurut Dwiki, tema-tema lagu yang dibawakan mencirikan kebudayaan Minang, meski ada beberapa musik barat yang nantinya dinyanyikan. "Nuansa lagu 'The Soul of Minang' plus lagu-lagu internasional," tambah Dwiki.

Lagu-lagu internasional yang dimaksud seperti "We Are The Champions" dari Queen yang akan dibawakan Candil, dan AB Three dengan "We Are One". Adapun dari dalam negeri, penyanyi Iis Dahlia akan membawakan lagu "Pak Ketipak Tipung", Ita Purnamasari dengan "Teluk Bayur"-nya, sementara Andien masih menunggu rencana.

Konser kedua Dwiki bersama dengan grup orkestranya, WPO, berupa dialog multikultur yang menghadirkan Indonesia Etnik musik yang akan diadakan di Plennary Hall Jakarta Convetion Center pada 21 Mei 2009.

Menurut Dwiki, WPO mengawinkan keluhuran, keindahan, dan kearifan musik tradisional dengan musik jazz. Dalam konser ini, Dwiki didukung banyak musisi internasional, di antaranya, Jummy Haslip, Russel Ferante, Frank Gambale, Michael Paulo, Roger Burn, dan Steve Thornton.

Sementara itu, dari dalam negeri, Dwiki akan menggaet penyanyi Glen Fredly dan masih banyak artis pendukung lainnya. "Musisinya dari lima benua, dan artis pendukung akan menyusul. Namun, yang pasti adalah Glen Fredly," ujarnya. Dwiki juga berkolaborasi dengan komposer asal Bali, I Nyoman Winda; dan koreografer I Nyoman Sura. "Tugas besar kedua konser ini adalah menyinergikan semua musisi melalui musiknya dengan dua tujuan wisata di Indonesia, yakni Danau Singkarak dan Taman Nasional Komodo," ujar Dwiki. (C2-09)

______________________________________________________________

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; KOMPAS)

Sunday, March 1, 2009

teknologi-Otomotif

Teknologi Hemat BBM W4G Diperkenalkan

By Republika Newsroom Kamis, 22 Januari 2009 pukul 00:29:00

MAKASAR -- Dinas Pertambangan Provinsi Sulawesi Selatan memperkenalkan teknologi alat pembakaran BBM hemat energi untuk kendaraan roda empat, teknologi ini mampu menekan penggunaan BBM hingga 30 persen. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sulsel, Sampara Salman di Makassar, Rabu, mengungkapkan, teknologi yang kini dalam uji coba tersebut bernama Water Four Gas (W4G) atau biasa disebut water turbo. "Teknologi ini telah dikembangkan di Jawa Timur, dikenal dengan pemanfaatan energi `blue`, ungkapnya. Di Sulsel, lanjut dia, uji coba implementasi teknologi tersebut sudah dilakukan pada 37 kendaraan dinas dari berbagai merek. Tahap awal, uji coba itu akan dipasang 50 kendaraan roda empat milik pegawai di lngkup pemerintah provinsi sulsel dan pemerintah kabupaten/kota."Tidak menutup kemingkinan teknologi water turbo ini akan perkenalkan nantinya untuk dinikmati masyarakat umum," ujarnya. Wakil Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sulsel, Darwis Sirman saat mendampingi Kadistamben Sulsel menjelaskan, pengenalan teknologi hemat energi ini mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 2008 tentang hemat energi dan air.Dia mengungkapkan, pembuatan teknologi W4G hanya membutuhkan anggaran berkisar Rp300.000 - Rp600.000 per unitnya. Biaya ini jauh lebih murah bila dibandingkan dengan pemesanan alat yang sudah jadi. Teknologi ini cukup memanfaatkan tabung atau botol plastik yang berisi air yang dicampur dengan soda kue, Menurut dia, dari perpaduan tersebut penguraian pembakaran akan menghasilkan gas yang dapat digunakan menghemat penggunaan bahan bakar minimal 30 persen lebih. Dikatakannya sebagai bukti W4G tersebut benar-benar hemat bahan bakar, terbukti perjalan dinas Makassar - Bulukumba, Sulsel yang biasanya menghabiskan kebutuhan bahan bakar hingga 13 liter, dengan memanfaatkan teknologi ini bahan bakar yang dihabiskan hanya sembilan liter. Selain mampu menambah optimalisasi kinerja mesin kendaraan, alat ini juga dianggap sangat ramah lingkungan. Sebab, teknologi ini mampu meminimalisir polusi yang ditimbulkan dari gas emisi buang kendaraan. Darwis menambahkan, tahap awal pemanfaatan sistem ini masih diprioritaskan bagi usia kendaraan dinas yang telah tua, sehingga upaya efisiensi operasional kendaraan dinas dapat ditekan dengan menggunakan sistem pembakaran teknologi asal Jawa Timur ini.ant/kp

___________________________________________________________________

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; REPUBLIKA)

mobnas karya Anak-Negeri Sendiri

Mobil Nasional Bakal Lahir dari SMK

By Republika Newsroom Selasa, 27 Januari 2009 pukul 05:27:00
MALANG -- Mobil Nasional (Mobnas) bakal "lahir" dari tangan-tangan terampil siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kanzen yang berlokasi di kawasan Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, Jawa Timur. Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Dr. Joko Sutrisno, Senin, mengungkapkan, Mobnas yang bakal lahir dari Kota Malang ini berbeda dengan Mobnas Timor beberapa waktu lalu yang diprakarsai Tommy Soeharto. "Mobnas yang diberi merek SMK S UVI itu sekarang masih dalam perakitan dan akan diproduksi massal jika sudah sempurna. Harganya juga tidak terlalu mahal yakni rata-rata Rp80 juta per unit on the road," katanya di sela-sela kunjungannya ke SMK 10 Malang bersama Mendiknas Prof. Bambang Sudibyo. Untuk mempercepat realisasi lahirnya Mobnas tersebut, katanya, Depdiknas telah menandatangani naskah kerjasama (MoU) dengan Kanzen November 2008 lalu. Selain memroduksi mobil dengan harga murah, kata Joko, SMK tersebut juga merakit sepeda motor sendiri bahkan yang sudah selesai dan siap pakai juga telah dipesan beberapa konsumen. Sepeda motor yang diberi merek SMK Kanzen itu seharga Rp7 juta per unit."Dari SMK percontohan ini lahir berbagai produk, selain mobil dan sepeda motor, di sini juga diproduksi laptop murah serta animasi berkualitas," katanya. Menurut dia, seluruh SMK di Indonesia nantinya wajib memiliki laptop dan langkah ini diawali dari Kota Malang sebagai produsen laptop murah seharga Rp5 juta per unit. Menyinggung kompensasi bagi siswa yang terlibat dalam perakitan maupun produksi sepeda motor, mobil, laptop dan animasi tersebut, Joko mengatakan, semua fasilitas peralatan dipenuhi oleh pihak sekolah. "Setiap siswa yang terlibat mendapat keuntungan tak langsung karena mereka hanya bisa praktek dan mengutak-atik berbagai desain. Secara materi mereka akan mendapatkan jaminan makan saja, karena keuntungan masuk ke sekolah," katanya menegaskan . - ant/ah _____________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; REPUBLIKA)

berita~SAINS

Iran Luncurkan Satelit Pemroses Data

By Republika Newsroom Selasa, 03 Februari 2009 pukul 21:44:00

TEHERAN -- Iran meluncurkan satelit nasional pemroses data diberi nama Omid pada Senin malam.Peluncuran satelit itu ke orbitnya dilakukan sesuai dengan perintah Presiden Mahmoud Ahmadinejad sehubungan dengan hari ulang tahun ke-30 kemenangan Revolusi Islam di Iran.

Satelit Omid diluncurkan menggunakan roket Safir 2 dan berhasil menempati orbitnya. Proyek satelit itu diluncurkan bardasarkan atas arahan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatullah Seyed Ali Khamenei tentang pengembangan teknologi strategis nasional sejalan dengan Gerakan Piranti Lunak, yang dilakukan universitas di Iran.

Proyek itu dimulai pada Maret 2005 di industri "Saa Iran" sebagai langkah praktis pertama untuk menguasai teknologi ruang angkasa nasional.Tujuan utamanya adalah menyiapkan landasan untuk memajukan industri ruang angkasa nasional di Iran.ant/irna-oana/kp

____________________________________________________________________

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber: REPUBLIKA)

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline