sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, February 16, 2009

1 ons bukan 100 gram

1ons bukan 100gram

Pendidikan yang Menjadi Bumerang

Ada seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di-PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan;

1pound=0,5kg dan 1ounce(ons)=100gram -- sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.

Sebelum PHK dijatuhkan, ia diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan. Salah-Kaprah yang Turun-Temurun Prihatin dan penasaran atas kasus di atas, ada yang mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia.

Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnah- kan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan " ons" dan " pound". Lepas dari adanya kebiasaan yang mengatakan 1ons=100gram dan 1pound=500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia.

Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.

SAMPAI-KAPAN ke-SALAH-an ini mau di-PERTAHANKAN ...............................?! Bagaimana Kesalahan Bisa diajarkan secara Resmi? Barangkali kita semua pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Ada yang pernah mendatangi beberapa sekolah, untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.

Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1ons=100gram dan 1pound=500gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. " Racun " ini sudah tertanam di dalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, ia mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi. Tanggung-Jawab Siapa ...... ?! Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa di atas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; " acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/ diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa: 1ons adalah 100gram, 1pound adalah 500gram." ............................? Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1ons=100gram dan 1pound=500 gram ........................? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan " ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensi- nya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru ini pun harus diakui ter- lebih dahulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak.

Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1ons(Depdiknas)=100gram dan 1pound (Depdiknas)=500gram.....?

Bagaimana " Ons dan Pound(Depdiknas) " ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku di seluruh dunia? Siapa yang mau pakai? Hentikan Segera Kesalahan Ini....!!!!!

Contoh kasus di atas hanyalah satu di antara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesa- lahan pendidikan. Bahkan, besar kemungkinan masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah-satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktikkan resep kue dari buku luar negeri yang tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampak- nya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikit pun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar.Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran salah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI di luar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat. Acuan Mana yang Benar.......... ?! Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf..., ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragu- kan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di dalam buku-harian/diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/avdp. (baca: averdupoiz). 1ounce/ons/onza=28,35gram (bukan 100g.) 1pound=453gram (bukan 500g.) 1pound=16ounce (bukan 5ons) Bayangkan saja ............................, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28gram, namun diberi 100gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa dikategorikan sebagai malapraktek? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!! Jadi, kalau mala- praktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran/ilustrasi -- salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, ................bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain, mungkin sekali banyak terjadi) Kalau Bukan Kita yang Menyelamatkan ...... lalu, Siapa....?! Melalui tulisan ini, semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademisi, profesi, pebisnis/pedagang, sekolah dan orangtua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan " ons dan pound yang keliru " dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/ menyesat- kan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini. # # # # # Semoga artikel ini bisa dikirimkan kepada seluruh media-masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyi- arkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilakan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas. Bila ANDA sependapat -- setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silakan di-perbanyak/di-foto-copy dan disebar-luaskan ke seluruh pelosok negeri. Bila ANDA ragu-ragu terhadap kebenaran artikel ini, silakan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat di kota ANDA berada. Terima kasih diucapkan kepada ANDA yang peduli dan mau berpartisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikit pun. ___________________________________________________________________________________ (sumber: Yoppy Martha Aditya -- PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. cq. (sman4_tangerang) cq. "untung setiawan" cq. imam@pandureka. com ed. Jagad-Kahiyangan)

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline