sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, March 2, 2009

Gedung-Kesenian

Gedung Kesenian; Harga Mati!!
By redaksi
Minggu, 22-Februari-2009, 07:17:12
Menyoal penting tidaknya Banten memiliki gedung kesenian sama halnya dengan mempertanyakan bagaimanakah seniman memandang dirinya.
(sebuah tanggapan) Oleh Lee Birkin* Nandang Aradea dalam tulisannya yang berjudul ‘Kesenian (Teater) Yang Membangun Ruang’ di Koran ini (1/2) menilai bahwa Banten tidak memerlukan gedung kesenian karena ditakutkan menimbulkan polemic tak berkesudahan. Mulai dari proses pembangunan, kreatifitas seniman yang terbatasi sampai adanya tindak korupsi. Dia juga memberikan solusi ‘alternatif’ berupa komunitas seharusnya bisa membangun ‘ruang’ sendiri, dan dana pemerintah yang diperuntukan membangun gedung kesenian, lebih baik didistribuskan langsung kepada komunitas-komunitas seni. Adalah betul, belajar bisa di mana saja, tetapi miriskah kita melihat anak-anak kita belajar di kandang kambing, kehujanan, kepanasan? Tentu hal itu tidak akan dibiarkan. Bagaimanapun, para orang tua akan lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang layak dibanding kandang kambing. Sekalipun ada yang namanya sekolah alam, dalam pelaksanaannya mereka tetap menata ruang, agar para siswa nyaman belajar. Begitupun dalam kesenian, berkarya bisa dimana saja. Hal itu sudah dibuktikan oleh komunitas-komunitas seni yang ada di Banten. Dari tahun 90’an sampai sekarang, belum adanya gedung kesenian tidak memberangus kreatifitas pelakunya. Mereka mampu membuat ruang-ruang public sendiri, tidak mematikan karya mereka. Sebuah ketahanan tubuh yang luar biasa. Gedung kesenian di suatu daerah merupakan sebuah teturus (baca; eksistensi) akan adanya pertumbuhan dan perkembangan kesenian sebagai produk kebudayaan. Begitu banyak produk kebudayaan di Banten yang memerlukan ruang representatif agar bisa lebih dikenal dan dihargai. Mana mungkin produk kesenian (khususnya seni tradisi) bisa dikenal jika tidak ada tempat untuk repertoar karya-karya seni masyarakatnya. Adanya gedung kesenian di Banten bisa dikatakan adalah mimpi lama para seniman di manapun, termasuk di Banten. Beragam cara sudah digelontorkan, mulai dari yang halus semisal Forum Kesenian Banten membuat “gedung kesenian ‘Kandang Langit Kemul Mega’” di alun-alun Serang, yang diisi aktifitas-aktifitas seni, dan bertahan setengah tahun. Sampai aksi damai di hotel permata saat penyusunan APBD Banten, sehingga disetujuilah pembangunan taman budaya tahap awal (walaupun baru sekedar pondasi). Menyikapi kebutuhan gedung kesenian dari bingkai teater, saya rasa tidak adil. Begitu fungsionalnya kehadiran gedung kesenian bagi tiap komunitas seni apapun. Seni tradisi, teater, musik, senirupa, bahkan sastra. Adalah betul dalam cetak biru pembangunannya, gedung kesenian lebih diperuntukan bagi seni pertunjukan, tapi hal itu tidak menutup pintu bagi bidang seni lainnya. Terlebih yang akan dibangun adalah taman budaya, di dalamnya ada galeri senirupa, wisma, selasar, teater terbuka, grand theatre dan sejumput fasilitas lainnya. Tentunya sekian fisilitas itu bisa mengakomodir ragam kesenian. Penulis pernah berkesempatan ‘menjenguk’ maket Taman Budaya Banten, satu bagian yang dirasa janggal adalah arsitektur ruang gedung utama “Grand Theatre”. Ruangnya tidak didisain seperti umumnya gedung teater, malah lebih seperti ruang serba guna. Alasannya agar bisa dipakai juga acara kawinan. Hal inilah yang perlu dikritisi bahkan dikaji ulang oleh pihak Disbudpar bersama seniman, agar nantinya grand theatre tidak terjadi disfungsi. Mengambil kasus Gedung Kesenian (Kota) Tangerang yang lebih mirip padepokan karena diperuntukan juga bagi IPSI. Soal manajerial gedung kesenian. Hal yang tak bisa dihindarkan adalah pengelolaan nya tetap dinaungi leading sectornya, dalam hal ini Dinas pariwisata dan Kebudayaan. Penetapan harga sewa gedung termasuk fasilitasnya di dalamnya, adalah hak preogratif dinas. Yang bisa kita siasati adalah pihak seniman melakukan bargaining saat awal penentuan harga tersebut sebelum diperdakan. Sebagai contoh Pemda Kab. Muara Enim dalam pengaturan pemakaian Gedung Kesenian, mengenakan biaya bagi pihak swasta (komunitas seni) sebesar Rp. 405.000/hari, termasuk di dalamnya sewa kursi, biaya kebersihan dan sound system. Dengan kelengkapan fisilitas pertunjukan yang ideal, harga itu sebenarnya tidak jadi soal. Jikalau rujukannya adalah Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki tentu saja tidak sepadan. Mengenai korupsi, rahasia umumnya adalah tidak ada satu pun gedung pemerintahan yang terbebas dari kasus korupsi dalam pembangunannya. Termasuk gedung kesenian nantinya, kesempatan korupsi itu pasti datang dari kontraktor dan oknum pejabat. Mulai dari, penyusunan RAB/DASK, proses lelang/tender sampai tahap pembangunanya. Sekalipun pihak seniman yang mengikuti tender itu dan menang, saya sedikit pesimis bisa menghindar dari tindak KKN, mengingat begitu banyak yang terlibat dan kesemuanya merasa berhak mendapatkan sesuatu. Lagi-lagi yang bisa dilakukan seniman adalah melakukan proses kontrol sosial, seniman membentuk tim kecil yang kredibel, bertugas ‘mengawal’ pembangunan gedung kesenian, tentu saja harus dengan perlengkapan perang yang memadai. Semisal tim kecil itu memegang RAB/DASKnya dan kalau mungkin bekerjasama dengan BPK. Upaya ini pernah berjalan, hanya saja seiring dihentikannya anggaran lanjutan tahun berikutnya, maka tim ini bubar(?). Pembangunan gedung kesenian dan bantuan komunitas merupakan dua hal berbeda pos anggarannya. Masing-masing berdiri sendiri. Saat ini, anggaran pemerintah Provinsi/Kab/Kota yang berupa bantuan masih sebatas kegiatan sosial, termasuk di dalamnya kegiatan kesenian. Itu pun dikucurkan hanya bagi komunitas seni tertentu saja, lebih banyak LSM atau Ormas yang sudah terdata. Untuk hal ini pun ada langkah yang bisa diambil seniman untuk merubahnya, yakni mengajukan usulan program dan kegiatan pada saat pembahasan RAB seluruh SKPD yang biasanya terbuka untuk diikuti LSM atau Ormas. Tapi, perjuangan belum selesai bung, program dan kegiatan yang sudah disetujui pemda harus tetap dikawal di meja DPRD sampai ketuk palu. Begitulah sedikit seluk beluk birokrasi yang mesti ditempuh oleh seniman. Gedung kesenian sudah bisa dipastikan akan dibangun tahun 2012, karena tahun itu adalah deadline pembangunan infrastruktur pemerintahan provinsi Banten. Pembangunan Taman Budaya Banten diakhirkan bukan karena pemerintah tidak peduli, tetapi lebih karena pemerintah tidak memahami utuh kebudayaan sebagai sebuah investasi jangka panjang dan pencitraan wilayah. Saya sangat menyayangkan pandangan apatis seorang sutradara Nandang Aradea terhadap keseniannya sendiri. Terlebih dalam tulisannya ada kesan menyepelekan “mimpi bersama” para seniman. Sayang sekali. Gedung Kesenian adalah Harga Mati! Sedikit menyoal tubuh, seorang komedian sejati adalah dia yang mampu mengundang tawa penonton karena kata-katanya bukan tubuhnya!!! Viva Le Acteur. *Penulis anggota teater AnonimuS ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; Radar-Banten)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline