sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, March 2, 2009

fenomena~Ponari

ZOOMFenomena Ponari di Tengah Masyarakat Anomi ANTARA/Andika Wahyu Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi (kanan), bercanda dengan Ponari (tengah) yang telah berganti nama menjadi Ari Rohmatulloh saat kunjungan ke SDN 1 Balongsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/2). Ponari yang dikenal sebagai "penyembuh kecil" itu kembali bersekolah sehingga praktek penyembuhan ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan, sambil mencari formulasi praktik yang terbaik bagi Ponari dan pasiennya. Selama dua minggu terakhir, perhatian mata publik tertuju ke Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Media massa cetak, apalagi media televisi, menghadirkan berbagai sisi peristiwa yang luar biasa itu ke hadapan pembaca dan pemirsa. Di sana ada praktik pengobatan oleh Muhammad Ponari (10). Batu kecil sebesar kepalan tangan anak-anak, menurut penuturan nenek Ponari, Mbah Legi, tiba-tiba jatuh ke kepala cucunya saat mandi hujan, bersamaan dengan datangnya suara petir pada 17 Januari lalu. Batu berwarna cokelat itu dibawa pulang ke rumah dan sempat dibuang ke semak-semak. Tetapi, batu itu kembali lagi ke rumah Ponari dan diyakini bertuah, lalu dimanfaatkan untuk sarana pengobatan. Setiap hari ribuan orang datang ke rumah orangtua Ponari, Kamsin (42) dan Mukaromah (28). Mereka datang untuk mencari kesembuhan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang sakit. Kabar dari mulut ke mulut tentang keampuhan batu ajaib milik Ponari membuat pasien semakin membeludak. Bahkan, ada pasien yang meninggal dunia saat antre berobat. Pascaperistiwa tragis itu, aparat Kepolisian dan Pemerintah Kabupaten Jombang untuk sementara menutup praktik pengobatan dan mengungsikan Ponari. Tetapi langkah itu ternyata justru membuat warga yang ingin berobat semakin bertambah. Mereka tetap berharap Ponari kembali berpraktik dan Dusun Kedungsari pun kembali membuat cerita. Tidak Masuk Akal Dalam pandangan sosiolog dari Universitas Indonesia, Hanneman Samuel, praktik penyembuhan oleh Ponari sebetulnya tidak masuk akal. Apalagi, hal itu terjadi pada abad ke-21, di mana kemajuan ilmu kedokteran begitu pesat, sehingga hampir tak ada satu penyakit pun yang tak bisa disembuhkan. Menurutnya, fenomena Ponari terkait dengan persoalan dasar, yakni semakin beratnya kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Pascareformasi 1998, beban kehidupan rakyat terasa semakin berat. Pekerjaan sulit didapat, harga kebutuhan pokok membubung, dan kesejahteraan semakin jauh dari jangkauan. Kondisi itu membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Janji-janji pemerintah dan elite di awal reformasi, yakni adanya kehidupan yang lebih baik, ternyata tak kunjung datang. Yang lebih parah, tidak ada kepastian bahwa kehidupan di masa mendatang bisa lebih baik. Masyarakat mulai frustrasi dan kekurangan harapan akan perbaikan kehidupan. Harapan yang mulai pupus, ditambah ketidakapastian, membuat sebagian warga kehilangan arah. Wujudnya, mereka melakukan aktivitas yang oleh sebagian orang dianggap tidak rasional, tetapi justru bagi pasien dan keluarganya, sangat rasional. Dalam sosiologi, kata Hanneman, kondisi di atas disebut sebagai masyarakat anomi (anomie). Terkait hal itu, dia mengingatkan agar fenomena Ponari tidak ditarik ke ranah agama. Fenomena Ponari terkait dengan urusan kesejahteraan rakyat, khususnya menyangkut pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan di sini, tak hanya menyangkut kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan sosial, spiritualitas, dan kejiwaan. "Ponari justru dimanfaatkan orang-orang dekatnya untuk menambah pundi-pundi mereka. Pemerintah harus memperbaiki pelayanan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Fenomena Ponari jangan dikaitkan dengan urusan agama atau keinginan sebagian orang untuk kembali ke era Orde Baru. Fenomena Ponari murni fenomena sosial di tengah masyarakat anomie," tegasnya. Sementara itu, sosiolog yang juga Ketua Program Studi Pascasarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winaryo mengatakan fenomena masyarakat yang berbondong-bondong datang berobat ke Ponari, bukan semata-mata karena tidak memiliki uang. Hal itu terjadi karena intervensi medis, baik di puskesmas maupun praktik-praktik dokter umum, bahkan dokter spesialis, tidak mampu menuntaskan penyakit pasien. "Umumnya, dokter hanya memandang pasien sebagai komoditas atau barang, yang jika sakit harus diberi obat, titik. Padahal setiap pasien selain memerlukan obat, juga komunikasi humanistik yang dapat membuat jiwa mereka tenang," ujarnya. Pada umumnya masyarakat Indonesia memiliki sifat ambigu. Di satu sisi, masyarakat tetap percaya peran dokter dan obat-obat modern, tetapi juga memiliki keyakinan yang sangat kental terhadap hal-hal yang bersifat mukjizat, walaupun itu irasional. Oleh sebab itu, fenomena Ponari harus disikapi secara bijaksana oleh pemerintah, khususnya Departemen Kesehatan. Institusi kesehatan ditantang untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. "Peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya menengah ke bawah bisa dilakukan dengan menerapkan pola medical integrated process. Ya medik, ya komunikasi humanistik, plus teologis," ujar Wahyudi. Eksploitasi Anak Meski ribuan orang dan beberapa kerabat mendorong Ponari terus memanfaatkan batu ajaibnya, sang bocah justru menginginkan hal sebaliknya. Ia mulai enggan berpraktik dan sangat ingin kembali ke sekolah. Akhirnya, sejak Kamis (26/2), praktiknya resmi ditutup dan Ponari berharap bisa menjalani masa anak-anaknya dengan bersekolah dan bermain. Keinginan si bocah didukung Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Menurutnya, panitia praktik pengobatan Ponari dapat dipidanakan karena telah melakukan eksploitasi anak. "Kalau polisi jeli, mereka (panitia, Red) dapat dipidanakan karena melakukan eksploitasi anak," katanya seperti dikutip Antara. Menurutnya, banyak hal yang menunjukkan adanya eksploitasi terhadap Ponari, antara lain hilangnya kebebasan anak itu untuk bermain, belajar, maupun mendapatkan kasih sayang. Ia menduga ada pihak yang menyusun skenario di belakang ketenaran Ponari. "Banyaknya pasien yang berdatangan ke rumah Ponari merupakan bentuk perlawanan atau protes orang miskin terhadap pelayanan kesehatan. Hal itu membuktikan kegagalan Departemen Kesehatan," tegas Arist. [070/080/A-16] ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ (sumber; Suara-Pembaruan)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline