sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, March 2, 2009

cerpen

Wajah
Saturday, 28 February 2009
Hening.Inilah negeri tanpa angin.Satu hembusan saja tiada.Kosong, tanpa arah.Sejauh apa pun pandangan dilemparkan, tidak terbentur pada garis cakrawala. Setitik saja, garis itu tiada. Mana ujung mana pangkal,tidak ada yang tebersit.
Memandang atau tidak memandang menjadi sama saja. Sepertinya yang ada hanya putih, atau mungkin inilah yang disebut benderang, atau inikah gelap dalam terang? Cahaya begitu gemilang ditaburkan, sampai-sampai membutakan. Yang Dilihat dengan Yang Melihat sungguh hanya menjadi misteri. Sebab, curahan cahaya atas cahaya itu laksana selimut kabut.Pendarnya memandikan sekujur ruh. Sorotnya menelanjangi diri hingga menembus rongga-rongga.Begitu gemerlapnya hingga pancaran itu menghapus bayang-bayang. Diri lenyap dalam karisma kemilau. Belum lagi memandang, sudah jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan.Memantulkan wajah.Memantulkan cahaya.Memantulkan pesona.Wajah siapa? Yang Melihat berucap, ”Tentu wajahKu sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Sembarangan saja.Wajah itu tiada lain adalah wajahKu.” Yang Melihat berucap, ”WajahMu adalah wajahKu juga.” Yang Dilihat berkata,”Jangan sembarangan menggunakan huruf kapital pada dirimu.”Yang Melihat berucap, ”Itu huruf yang Kau ciptakan sendiri. Kau yang tak lain adalah Aku.” Langit mulai gelisah. Begitu pertama kali diciptakan dengan satu isyarat telunjuk saja, ombak-ombak pada bidang yang teramat lapang itu membentuk gugusan-gugusan mendung. Hitam dan kelabu menjadi warna pertama pada awan setelah biru disaputkan ke seantero langit.Yang Dilihat memang Maha Sabar. Yang Dilihat memberi petunjuk kepada Yang Melihat tanpa menghardik.Yang Dilihat meniupkan angin pertama dan menerbangkan uap-uap.Bola-bola hujan menembus atap surga, berkejar-kejaran, membentuk garis-garis arsiran tipis rapat. Namun, Yang Dilihat belum membuat bunyi dan suara. Hening, tidak terdengar semangat pasukan rintik-rintik.Apalagi, setelah itu mereka lumat ditelan kabut cahaya. Yang Dilihat berkata,”Membenarkan memang bukan dengan cara menyalahkan.” Yang Melihat berucap, ”Apa maksudMu?”. Yang Dilihat tersenyum.Tidak terperi betapa cantiknya. Sepanjang sayap Malaikat dibentangkan,langit penuh pulasan cerah. Merah pertama, jingga pertama, kuning pertama, hitam, biru,nila pertama,ungu pertama, berturut-turutan digariskan. Inilah pelangi pertama, melingkar dari ujung ke ujung, melengkung dari pangkal bertemu pangkal.Selain Yang Dilihat,tidak ada yang benar-benar tahu dari mana titik pelangi ditorehkan. Yang Dilihat berkata,”Aku adalah Aku, kau adalah kau.Aku bukan kau, kau bukan Aku. ”Yang Melihat berucap, ”Mana bisa begitu? Sungguh tidak adil.” Yang Dilihat berkata, ”Akulah Yang Maha Adil.” Yang Melihat berucap, ”Maka, jujurlah pada diriMu sendiri.Aku adalah Kau,Kau adalah Aku.” Para Malaikat tidak mendengar sepetik pun percakapan antara Yang Dilihat dan Yang Melihat.Yang Dilihat belum membuat bunyi dan suara.Para Malaikat diberi sayap, tapi telinga tidak. Hanya pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Belum lagi kehendak Yang Dilihat disabdakan, para Malaikat sudah lebih dulu dikaruniai kondisi paham, patuh, dan tidak bertanya. Mau bertanya bagaimana? Huruf-huruf diciptakan dan disusun bukan untuk para Malaikat. Jibril tidak tahu namanya terdiri atas huruf apa saja. Mikail demikian pula. Izrail pun begitu. Ridwan, Malik, Israfil, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, juga.Muqarrabin tidak luput. Yang Dilihat pun belum merasa perlu membuat jauh dan dekat.Karena dalam keadaan tidak berjarak sekali pun, perdebatan Yang Dilihat dengan Yang Melihat itu tetap menjadi rahasia.Tidak mungkin bocor ke tangan siapapun.Tidak kepada para Malaikat, langit, angin, bola-bola hujan, atau pelangi. Lagipula, mudah bagi Yang Dilihat menghapus seluruh rekaman perbincangan itu. Seperti cahaya menghapus bayang-bayang. Semuanya lenyap dalam karisma kemilau. Jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan.Memantulkan wajah. Memantulkan cahaya.Memantulkan pesona.Wajah siapa? Yang Dilihat berkata, ”Sudah Kufirmankan, itu wajahKu.” Yang Melihat berucap,”Becerminlah. Lihat wajah siapa itu.WajahKu, wajahKu!” Para Malaikat masih saja terhuyung dalam puja-puji. Sayap raksasa, dengan bulu-bulu cahaya yang lebih luas dari semesta, pilar dan rusuk lengan yang maha kekar, dikepak-kepakkan. Para Malaikat hanya dilingkupi dengan satu rasa: bahagia.Para Malaikat terhuyung-huyung dalam nyanyi sunyi. Hening dan kosong. Sampai-sampai tersungkur dalam sujud. Seperti anak burung belajar terbang. Didorong angin,para Malaikat terjun dari pucukpucuk langit,berkelebatan,menembus kabut cahaya, mencari dasar surga. Sampai-sampai tersungkur dalam sujud,para Ma-laikat tidak juga menemukan mula dan akhir. Tapi,para Malaikat itu tidak bertanya. Mau bertanya bagaimana? Hurufhuruf diciptakan dan disusun bukan untuk para Malaikat. Terbang, hanya terbang, mata belum dibukakan bagi para Malaikat.Sayap,hanya sayap, telinga belum diciptakan untuk para Malaikat. Hati, hanya hati, pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Jibril berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Mikail berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Izrail berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Ridwan berseru,”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Malik berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Israfil berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Munkar berseru,”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Nakir berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Raqib berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Atid berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Muqarrabin berseru, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Koor, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Para Malaikat tidak tahu dengan huruf- huruf apa pujian itu disusun. Para Malaikat tidak tahu nama-nama para Malaikat terdiri atas huruf apa.Para Malaikat paham,patuh,dan tidak bertanya.Para Malaikat tersungkur dalam sujud, kemudian bangkit, mengepakngepakkan sayap, dan meluncur lagi dari pucuk-pucuk langit. Sayap para Malaikat bersentuhan, merentang, mengukur seberapa lapang langit dibentangkan.Tak menemu awal, tak menemu akhir. Tiada yang kekal selain wajahKu, puji para Malaikat tanpa kata tanpa ucap tanpa mimik. Hanya pijar kepatuhan yang bersemayam di dada para Malaikat. Bangkit, terbang, tersungkur, bangkit, terbang, tersungkur, bangkit, terbang, tersungkur, dari pucuk-pucuk langit mencari dasar surga. Tidak menemu, tidak menemu. Hanya memuja, hanya memuji. Yang Dilihat berkata,”Kebenaran bahkan tidak butuh bunyi dan suara.” Yang Melihat berucap, ”Aku juga diam atas peristiwa.” Yang Dilihat berkata, ”Tiada yang kekal selain wajahKu.” Yang Melihat berucap, ”Maha Benar itu. Tiada yang kekal selain wajahKu.” Yang Dilihat berkata,”WajahKu.” Yang Melihat berucap,”WajahKu.” Cermin yang berserakan direngkuh Yang Dilihat. Dirangkai, seperti rusuk hilang yang menggenapi rongga. Sudut berjodoh sudut,siku mengawini siku, utuh sebagai bentuk. Menjadi cermin seluas langit.Memenuhi surga yang kosong. Menjadi kornea yang menerima cahaya,menjadikannya menyaksikan, bersaksi. Surga menjadi rumah kaca.Ke manapun berpaling, di sanalah wajahKu ada. Para Malaikat dengan sayap raksasa, dengan bulu-bulu cahaya yang lebih luas dari semesta,dengan pilar dan rusuk lengan yang maha kekar, tidak terpantul pada cermin.Para Malaikat tidak mewujud.Para Malaikat hanya memiliki bentuk, wujud tidak. Berkelebat dari mana ke mana, dari sini ke sana, tak satu noktah pun gerak-gerik para Malaikat ada pada cermin.Para Malaikat itu tiada.Tidak sesungguhsungguhnya ada. Hanya wajahKu, hanya WajahKu,yang Ada. Bukan berada, tapi Ada. Yang Dilihat berkata,”Hanya Aku, Aku yang Wujud.” Yang Melihat berucap, ”Pasti Kau memandangnya dari cermin. Mengakulah, itu wajahKu.”Yang Dilihat bertanya,” Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, Kau Yang Maha Tahu lebih tahu jawabnya.” Yang Dilihat bertanya,”Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, Yang Menanya lebih tahu dari Yang Ditanya.” Yang Dilihat bertanya, ”Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab,” Sungguh,tanpa mata pun Aku telah bersaksi.” Yang Dilihat bertanya,” Dari mana kau tahu tanpa memandang?” Yang Melihat menjawab, ”Sungguh, sudah jelas itu wajahKu.” Yang Dilihat berkata,” WajahKu.” Tiada wajah selain wajahKu. Tiada yang kekal selain wajahKu. Ke mana pun berpaling, di sanalah wajah- Ku. Rumah kaca memantulkan wajahKu. Memantulkan cahaya- Ku. Memantulkan pesonaKu. WajahKu semata. Cermin saksiKu, kau saksiKu. Yang Melihat berucap, ”Kau saksi Engkau sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Dikaulah saksiKu.” Yang Melihat berucap, ”Aku tak lain adalah Kau.Aku saksi DiriKu sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Aku Ada, kau tiada. Aku Wujud, kau bentuk.” Yang Melihat berucap,”Ada tidak butuh saksi. Ada ada karena Adanya sendiri.” Yang Dilihat berkata, ”Kau bersaksi untuk dirimu sendiri.” Yang Melihat berucap, ”Iya, Aku bersaksi untuk DiriKu sendiri.” Yang Dilihat berkata,”Kau bersaksi atas Adanya Aku untuk dirimu sendiri.” Yang Melihat berucap,”Untuk apa? Aku bersaksi untuk DiriKu sendiri.” Sungguh,kau tidak tahu.Sungguh, Kau Maha Tahu. Aku tak lain adalah Kau.Aku Aku,kau kau.Aku Aku,Engkau Engkau, Aku Engkau, Engkau Aku.Langit bergemuruh.Sangkakala pertama ditiupkan. Melengking, menyayat. Menggelegaklah angkasa.Hening tercerabut. Langit guncang. Langit gempa. Langit terbelah. Melepuh butir-butir hujan yang masih dierami mendung. Pasukan rintik-rintik lenyap seketika. Awan-awan kerontang buyar tercabik- cabik. Deru angin menderapderap laksana pacuan yang lepas kendali. Sayap para Malaikat menyangga langit yang hampir runtuh. Ubunubun langit tecercap hingga ke akarakar surga. Bunyi pertama, suara pertama, tiupan Sangkakala, menggaris semesta dengan ranting-ranting yang berlarian, dengan alur-alur yang membentuk retakan, deras seperti anakanak sungai berlari kencang mencapai garis pantai. Rumah kaca pecah berserakan, tersungkur dalam sujud. Semuanya, semuanya, semuanya sirna. Tak berbekas, tak bersisa, seperti tidak pernah ada. Memang tidak pernah ada,tiada. Senyap sudah negeri tanpa angin. Satu hembusan saja tiada. Kosong. Tanpa arah. Sejauh apapun pandangan dilemparkan,tidak terbentur pada garis cakrawala. Setitik saja, garis itu tiada. Mana ujung mana pangkal, tidak ada yang tebersit. Memandang atau tidak memandang menjadi sama saja. Sepertinya yang ada hanya putih, atau mungkin inilah yang disebut benderang, atau inikah gelap dalam terang? Cahaya begitu gemilang ditaburkan, sampaisampai membutakan. Yang Dilihat dengan Yang Melihat sungguh hanya menjadi misteri. Sebab, curahan cahaya atas cahaya itu laksana selimut kabut. Pendarnya memandikan sekujur ruh.Sorotnya menelanjangi diri hingga menembus rongga-rongga. Begitu gemerlapnya hingga pancaran itu menghapus bayang-bayang. Diri lenyap dalam karisma kemilau. Belum lagi memandang, sudah jatuh berkeping-keping menjadi cermin berserakan. Memantulkan wajah. Memantulkan cahaya. Memantulkan pesona. Wajah siapa? (*) Timuran,2006 Candra Malik, bergiat di Komunitas Omah Mulih di Solo. ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; koran~SINDO)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline