sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Monday, March 2, 2009

berita~Budaya

Harmoni Gerak Kungfu dan Tari Kontemporer
Sunday, 01 March 2009
DALAM kurun waktu kurang lebih setengah jam, banyak hal yang ingin disampaikan oleh koreografer asal Taipei ini. Penonton pun seakan dibombardir dengan berbagai perspektif Lin Yuan dalam menyikapi hidup,dalam melihat dilema yang terjadi di masyarakat, tanpa sekalipun bermaksud menggurui.
Lin Yuang yang mengaku tidak tahan dengan estetika kaku yang harus dibawakan, memutuskan untuk membuka diri terhadap cara-cara lain dalam berekspresi di panggung. Jawabannya? Perpaduan antara tari kontemporer sekaligus teater.Pertunjukkan tari kontemporer Kungfu Dancing & Entre-Deux ini sebagai hasil dari perenungan dan pertanyaan yang sering muncul di benaknya. Sebuah paradoks yang mengganggu ketenangan jiwanya. Sebuah pertanyaan sederhana dan tidak dibutuhkan seorang profesor cerdas untuk menjawabnya; semua orang bisa pergi ke bioskop,tapi mengapa hanya segelintir orang yang menonton tari kontemporer ? ”Karenanya dari pada mengotak-ngotakkannya, bagaimana kalau kita coba menggabungkan kedua pertunjukkan yang berbeda tersebut,”ujar Lin Yuang yang telah masuk ke Opera Beijing menginjak usia 11 tahun ini. Tidak perlu menangkap makna tersirat dalam pertunjukkan yang dibawakannya. Dilema tersebut secara gamblang tertera jelas dalam sebuah layar putih yang terpantul dari hasil proyeksi. Dalam gerakan meliuk-liuk yang menggabungkan seni tari dan gerakan kungfu eksotis seraya dibanjiri cahaya lampu, membuat bayangan Lin Yuang menjadi siluet tersendiri di tengah panggung. Masih sambil menampilkan harmonisasi seni gerak kontemporer sekaligus kungfu, di layar muncul tulisan, ”Lebih mudah menonton kungfu daripada tarian kontemporer,” katanya. Begitulah berturut-turut di layar muncul buah pikir Lin Yuang yang menurutnya tidak hanya cukup dikeluarkan dalam bentuk tarian semata. ”Kita memandangnya, melihatnya, ia tidak terlihat. Di luarnya tidak gemerlap, di dalamnya tidak gelap. Dalam gerakan tiada henti ia dapat jadi nyata, ia bentuk tanpa bentuk.Gambar tanpa gambar.Ia licin dan tidak terpegang. Melihatnya datang, kita tidak melihat di mana ia berawal. Mengikutinya, kita tidak melihat di mana ia berakhir,” ucapnya. Rasanya belum lengkap membicarakan filsafat hidup tanpa menyinggung ajaran Lao Tzu dengan Taoismenya. Terlebih lagi ilmu kungfu tidak terlepas dari Taoisme yang mengajarkan bagaimana menciptakan keseimbangan antara tubuh dan jiwa.Sebagai seseorang yang mendalami kungfu sejak usia belia, Lin Yuang menjadikan prinsip Taoisme sebagai pedoman hidupnya. Prinsip inilah yang ingin dibagi kepada penonton. Taoisme yang berati tidak berbentuk, tidak terlihat, tetapi merupakan asas atau jalan atau bisa juga disebut sebagai cara kejadian kesemua benda hidup dan segala benda yang ada di alam semesta dunia ini. Benda-benda yang ada di alam inilah yang menciptakan keseimbangan hidup manusia. Sekali lagi di layar muncul tulisan yang seolah semakin menegaskan ajaran Taoisme yang ingin dibagi kepada penonton. ”Semua orang mempertahankan yang bagus, di sinilah letak keburukannya. Kemudahankesulitan, panjang-pendek,tinggi-rendah,semuanya saling menyatu dan memberi warna pada alam,”tandasnya. Tulisan berubah berganti dengan sebuah filosofi hidup yang pantas untuk direnungkan, menikmati suguhan gabungan sinema dengan teater ini, seakan tidak ada habisnya. Tidak cukup waktu setengah jam untuk mentransferkan berbagai unek-unek Lin Yuang beserta ajaran Taoisme yang ingin disampaikan. Namun,Lin Yuang mencoba memadatkan apa yang diketahuinya dalam kurun waktu yang diberikan sehingga penonton seolah tidak diberi kesempatan untuk bernapas dan menelaah aspirasi yang dibawakan. Pertunjukkan ditutup dengan gambar yang mendeskripsikan kehidupan masyarakat di sebuah perkotaan yang tidak kunjung berjeda. Berbagai jenis kendaraan berseliweran bersamaan dengan manusia yang mencoba bertahan hidup dalam hiruk-pikuk perkotaan. Tampak gambar ratusan anak ayam berdesak-desakan dalam sebuah peternakan, yang seakan berlomba-lomba dengan manusia yang jumlahnya semakin padat menyesaki bumi. Lin Yuang mengibaratkan hal tersebut sebagai ritme kehidupan yang tidak pernah berhenti. Alam menyediakan lahan yang luas bagi manusia, namun menjadi semakin sempit dengan pertumbuhan angka manusia yang fantastis. Meningkahi hiruk-pikuk dunia, Lin Yuang mencoba bertanya. ”Apakah Anda memiliki waktu lima menit saja dalam sehari untuk tidak memikirkan dan melakukan apapun?”tanyanya. (sri noviarni) ____________________________________________________________________ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~(sumber; koran~SINDO)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline