sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Friday, February 22, 2008

klipping-5

Reog~PONOROGO Selasa, 04 Des 2007 Mbah Wo Kucing, 82 tahun, masih bisa geram. Juga dendam. Maklum warok sepuh yang kampiun ini dari Ponorogo, nama yang melekat dalam reog, mendengar bahwa dalam situs Kementrian dan Kebudayaan Malaysia mencantumkan sebagai pemilik, pewaris budaya. Mereka menyebutnya barongan. Bukan hanya Mbah Wo yang murka. Kucing, atau burung merak, atau harimau- dua binatang terakhir ini kaitannya denganb reog, bisa marah. Karena kesenian reog tak bisa dipisahkan dengan budaya masyarakat Indonesia, terutama Jawa, secara agak khusus Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga variannya di Jawa Barat. Secara lebih khusus di Ponorogo, makanya dikenal dengan nama Reog Ponorogo. Pertunjukan tradisional yang sarat pameran kekuatan ini, topeng berbentuk kepala harimau dengan bulu merak bisa mencapai setinggi satu setengah meter, berat mencapai 50 kilogram, dimainkan dengan gigi-juga kalau pemainnya bergulingan, atau gerak jungkir balik. Artinya kalau Cuma penari dangdut, atau sedang bengek, tak mampu menggerakkan. Sedemikian berat persyaratannya, sehingga warok yang memainkan reog, tabu untuk mengeluarkan sperma bagi perempuan. Sebagai gantinya ia memelihara gemblak, bocah lelaki tampan, yang dijadikan anak atau kekasih, atau dua-duanya. Tata krama yang rumit ini menunjukkan bahwa akar permasalahan memang dari bumi Ponorogo, bukan Johor, Selangor atau or yang lain. Konon sejak abad 14, dengan tokoh legendaris Warok Suramenggolo dan Warok Suragentho-nama ini menunjukkan kelasnya sebagai jawara, reog sudah memasyarakat. Dalam kondisi seperti ini, seenaknya saja Malaysia mengklim itu miliknya, dengan menamai barongan. Padahal jelas berbeda. Barongan, dari kata barong seperti yang berkembang sangat bagus di Bali, juga Bandung, berbeda jalinan cerita yang disajikan, berbeda dengan iringan musiknya, berbeda tokoh-tokoh yang menyertai reog. Kok berani-beraninya Malaysia mengklim itu warisannya? Sudah agak lama sebenarnya bangsa serumpun ini mulai kurang ajar. Beberapa budaya yang jelas karya bangsa Indonesia, dicaplok begitu saja. Bisa jadi bangsa Malaysia tidak kreatif, dan tidak mau melalui pendekatan kreatif. Bahkan menurut saya, nama Malaysia dari Melayu atau Malaya ikut-ikutan nama Indonesia. Pakai ia di belakangnya sehingga menjadi Malaysia. Disangkanya, mungkin, kalau pakai ia di belakangnya bakal keren. Lagu kebangsaannya juga nyontek abis lagu kroncong kita. Jadi gimana dong Mal? Menurut saya, kalau mau mengaku ini itu yang dari Indonesia, caranya mudah saja. Malaysia mengakui sebagian bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi provinsi baru. Dengan demikian ikut menerima warisan budaya yang kelas dunia, diakui sejagat. Mau? Bagus. Nggak mau? Kalau tidak mau, belajar jadi kreatif, belajar jadi bangsa ksatria, jangan asal main caplok atau emplok, menelan, terus. Belajar, jangan kurang ajar. ____________________________________________________ (sumber: 'Koktail'~http://www.jurnalnasional.com/ ~ down-load at; Jum'at, 22 Februari 2008 on 20.45 wib. ed.JK)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline