sangÇAKAku

Di Bawah Tiang Bendera

statistic

JagadLacak

Loading

SunRise

document-lisence

seluruh dokumen di 'Jagad-Kahiyangan~POST' ini, dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan tetap menyertakan sumber-nya.

_____________________________________________________

JagadKahiyangan ©2014

sangElangPerkasa

sangElangPerkasa
sangGarudaÇakti

Daniel-Sahuleka

KATA-KATA ber-KATA

Hosting from Joomla (GRATIS)

Free Website Hosting Free Website Hosting

Friday, February 22, 2008

klipping-4

Guru Jum'at, 22 Feb 2008 PAHLAWAN tanpa tanda jasa, begitulah gelaran terhormat pada mereka yang berprosesi sebagai guru. Gelaran yang terasa sinis, karena kenyataannya kehadiran para guru seolah tidak digubris. Bukan hanya pahlawan tanpa tanda jasa, juga tanpa terima kasih. Padahal, rasanya kita tak bisa seperti ini kalau tak ada guru yang mau membimbing, mendidik, dan mencerdaskan kita. Kenangan kita akan guru-biasanya istilah ini dikaitkan dengan guru Sekolah Dasar atau Lanjutan, karena untuk di atasnya ada istilah guru besar, mahaguru-masih sama. Seorang yang sabar, tekun, dengan kondisi pas-pasan, sangat sederhana, dan tetap berada di tempatnya ketika anak didiknya mencapai prestasi yang lebih. Dalam kosa kata Jawa, guru adalah sambungan kata diGUgu (diikuti perintahnya) dan ditiRU (dijadikan contoh). Bahkan dalam peribahasa kita mengenal peranan istimewa guru yang mengakibatkan murid berkelakuan buruk, jika ia berperi laku buruk,'Guru kencing berdiri, murid kencing berlari'. Idiom guru, berguru, menjadikan posisinya istimewa, terhormat. 'Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi'. Penggunaan kata berguru yang berarti belajar, menuntut ilmu, menunjukkan pemaham kita bahwa guru sesuatu yang positif. Juga dalam 'Berguru dahulu sebelum bergurau', menunjukkan itu. Tapi inilah yang dialami Sanan, 50 tahun, guru kelas IV SD negeri Cilebut 3, Bogor. Pak Guru yang sudah mengajar selama 16 tahun, 3 tahun di SD itu, kini ditahan polisi. Sebagai widyaiswara-sebutan lain dari guru yang pernah popular, Pak Sanan mendatangi kelas dua yang berada di sebelahnya karena ada keributan. Ada perkelahian di dalam kelas, yang mengganggu ruang sebelahnya. Ada anak, usia 10 tahun, yang kena tendang ketika diusir. Korban kesakitan, pulang ke rumah. Orang tua anak protes. Sempat terjadi upaya 'perdamaian' bahwa kasusnya tak akan diperkarakan kalau Pak Guru membayar sejumlah uang-konon sampai puluhan juta, yang bisa dipastikan tak dimiliki Pak Guru. Ibu korban, dalam berita di media cetak, mengatakan ia meminta Rp.6 juta untuk beaya pengobatan. Sampai di sini persoalan bergeser antara 'peras-memeras', atau 'upaya perdamaian', atau hitung-hitungan materi. Tapi nasib Pak Guru menempatkan di sel tahanan kepolisian. Bukan di depan murid-murid yang ditinggalkan. Saya hanya bisa turut merasakan betapa derita yang harus dijalani Pak Guru Sanan yang selama 16 tahun mengajar di Sekolah Dasar, dengan segala gambaran ketabahan dan ketekunan dalam kesederhanaan. Lalu satu titik dalam perjalanan hidupnya, karena ingin menentramkan ruang kelas lain, berakhir dengan 'mengusir anak dengan kaki'. Si anak sakit bagian tulang ekor. Lalu orang tuanya protes, marah dan upaya berdamai gagal. Pak Guru Sanan dimasukkan ke dalam sel. Saya hanya bisa membayangkan bahwa apa yang dilakukan Pak Guru ini masih berada dalam tugas dan profesinya. Keinginannya menentramkan kelas yang ribut-pasti ada sebabnya, adalah kemuliaan dan kebaikan hatinnya. Bahwa harus menerima risiko karena ada siswa yang mungkin 'bandel' atau secara tak sengaja, itu agaknya menjadi semacam 'suratan nasib'. Maksud saya , Pak Guru kita ini ditahan karena melakukan tugasnya, dan bukan karena, misalnya saja, melecehkan siswinya atau korupsi - eh apa yang bisa dikorupsi seorang guru SD?, atau soal selingkuhan. Haruskah berakhir seperti ini? Haruskah ada penahanan hanya karena tidak ada kesesuaian uang damai atau uang pengobatan? Saya hanya bisa ikut prihatin, bahwa peranan Sang Guru-begitu sastrawan Gerson Poyk menyebutkan, ternyata masih tersisih lahir batin dalam kehidupan kita, masih jauh dari ucapan terima kasih. Masih harus merintih. Ketika siswa-siswa berkelahi, pak gurulah yang menjadi pelindung, dengan segala akibatnya. Tapi ketika para guru-bukan hanya Pak Sanan, terlibat masalah, siapa yang melindungi? ____________________________________________________ (sumber: 'Koktail'~http://www.jurnalnasional.com/ ~ down-load at; Jum'at, 22 Februari 2008 on 20.30 wib. ed.JK)

No comments:

Post a Comment

boleh meng-kritik dan/atau saran, yang sifatnya membangun.

buisness

Daily Calendar

nawala

Jajak-Pendapat

Amazon SearchBox

Ramekakat

..

jagad-slide

slides~Jagad-Kantata

Jagad-Otomotif Slideshow: Jagad.kahiyangan’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

ODE to CHINE

JerusalemOnline